Penyebab dan Cara Mengatasi Agitasi

10 Sep 2021 by Laruan

Agitasi merupakan kondisi kejiwaan berupa perasaan kesal, marah, atau jengkel yang bisa muncul baik jika ada pemicunya maupun tidak. Rasa emosional saat menghadapi tekanan ada hal yang wajar. Namun, jika mengalami rasa emosi dan marah secara terus-menerus, maka sebaiknya Sobat Pintar perlu berjaga-jaga.

Depresi adalah hal manusiawi. Jiwa yang normal dapat menutupi rasa depresi dan mencari pengalihan dengan melakukan hal positif, seperti bekerja, berolahraga, atau mendengarkan musik. Sedangkan orang dengan kondisi kejiwaan kurang stabil akan menunjukkan perilaku negatif, seperti marah, berbicara cepat, atau berjalan mondar-mandir tanpa henti. 

Nikmati Berbagai Promo Menarik dari Shopee 9.9 Dengan Tips Berikut Ini

Penyebab dan Cara Mengatasi Agitasi

Faktor-faktor Penyebab Agitasi

1. Stres

Pemicu terbesar agitasi perasaan emosional yang berlebihan adalah kondisi stres. Rasa stres ini bisa berasal dari beragam sumber, mulai dari tekanan pekerjaan, lingkungan, keluarga, hingga kondisi berduka. Masalah keuangan juga bisa menjadi sumber stres. 

Media sosial semakin memudahkan penggunanya untuk melihat kesuksesan orang lain. Hal ini secara gamblang menjelaskan bahwa pengguna media sosial rentan stres dan tertekan. Maka dari itu, gunakanlah media sosial secara bijak untuk kesehatan mental Sobat Pintar.

2. Nyeri tubuh

Rasa nyeri pada bagian tubuh tertentu juga memberi andil pada munculnya perasaan emosional yang berlebihan. Rasa nyeri ini bisa berasal dari berbagai sumber, seperti demam, luka fisik, atau sindrom dementia. Tidak seperti orang normal, pengidap gangguan kejiwaan mengekspresikan rasa nyeri dengan menunjukkan perilaku perasaan emosional yang berlebihan.

Penyakit demensia adalah sindrom yang menyebabkan penurunan fungsi otak. Pengidapnya mengalami penurunan fungsi kognitif dan psikologis, seperti sulit berkomunikasi, tidak dapat mengingat peristiwa tertentu, dan kerap merasa kebingungan. Mereka tidak bisa mengekspresikan rasa nyeri selayaknya orang normal.

3. Gangguan mental lain

Perasaan emosional yang berlebihan juga dapat ditimbulkan oleh penyakit gangguan mental, seperti autisme, skizofrenia, bipolar, depresi, dan delirium. Pengidap autisme memiliki masalah dengan komunikasi nonverbal, perilaku, dan ucapan. Kondisi ini membuat orang dengan gangguan autisme mudah marah dan merasakn perasaan emosional yang berlebihan.

Sedangkan skizofrenia adalah gangguan mental yang menyebabkan penderitanya mengalami delusi, halusinasi, dan pemikiran yang tidak teratur. Pengidap penyakit ini mudah terganggu oleh pikirannya dan mengekspresikan marah dengan melakukan tindakan perasaan emosional yang berlebihan.

4. Ketidakseimbangan hormon

Penyebab perasaan emosional yang berlebihan berikutnya adalah faktor ketidakseimbangan hormon, salah satu jenisnya yaitu hipotiroidisme. Hal ini terjadi karena kelenjar tiroid tidak bekerja secara normal sehingga hanya memproduksi sedikit hormon tiroid.

Hormon tiroid berfungsi untuk menyalurkan energi ke seluruh tubuh. Apabila jumlah hormonnya sedikit, maka tubuh tidak akan berfungsi sebagaimana mestinya. Pengidap hipotiroidisme mengalami kondisi cepat lelah, berat badan meningkat, dan depresi. Lambat laun, kadar hormon yang sangat tidak seimbang akan berujung pada kondisi perasaan emosional yang berlebihan.

5. Gangguan saraf

Orang yang mengalami gangguan saraf juga berisiko terkena perasaan emosional yang berlebihan. Salah satu penyakit dengan gangguan saraf yang cukup parah adalah tumor otak. 

Gejala yang bisa muncul karena penyakit ini meliputi kejang, sakit kepala akut, hingga kebingungan. Semua gejala itu akan bermuara pada kondisi perasaan emosional yang berlebihan. Gangguan saraf juga dapat memberi efek perubahan mood mendadak.

Hal ini bisa dicegah dengan melakukan gaya hidup sehat sejak usia dini. Kurangi konsumsi makanan yang bisa meningkatkan risiko tumor otak, seperti daging olahan, minuman soda, serta makanan yang terkontaminasi pestisida.

6. Gangguan spektrum autisme

Orang dengan autism spectrum disorder (ASD) atau gangguan spektrum autisme memiliki gangguan perilaku, salah satunya dengan bertindak agresif ke orang lain. ASD memiliki beberapa jenis, yaitu autisme, sindrom Heller, sindrom Asperger, dan gangguan perkembangan pervasif. 

Spektrum autisme memiliki tanda beragam, artinya satu orang memiliki gejala yang berbeda satu sama lain. Gangguan ini bisa dideteksi sejak dini pada anak, misalnya anak tidak merespon saat namanya dipanggil atau menghindari kontak mata dengan lawan bicara.

7. Gejala berhenti alkohol

Seseorang yang sedang berhenti dari kebiasaan minum alkohol juga memiliki kemungkinan untuk bersikap agresif. Sikap itu muncul lantaran tubuh menghadapi reaksi kuat karena keluar dari kebiasaan, yaitu muncul insomnia, menggigil, sakit kepala, dan badan berkeringat.

Pelampiasan dari reaksi itu bisa mendorong orang untuk bersikap agitatif. Mereka akan merasa tertekan dan melakukan hal-hal mengganggu, seperti jalan cepat mondar-mandir, marah, dan berbicara cepat. Berbagai tindakan itu bisa merugikan diri sendiri dan orang lain.

8. Penyalahgunaan obat-obatan terlarang

Penggunaan obat-obatan terlarang berdampak buruk bagi kesehatan fisik dan mental seseorang. Selain rasa ketergantungan, narkoba bisa menyebabkan perubahan sel saraf otak, penurunan daya ingat, sulit tidur, dan halusinasi.

Berbagai gejala ini sangat mengganggu fokus dan mengakibatkan stres. Alhasil, pengguna obat-obatan terlarang berpeluang besar melakukan tindakan perasaan emosional yang berlebihan. Tidak jarang Sobat Pintar mendengar berita orang kecanduan narkoba yang melakukan tindak kejahatan. 

Secara lebih jauh, obat-obatan terlarang bisa meningkatkan frekuensi denyut jantung secara berlebihan, sehingga bisa mengakibatkan serangan jantung.

9. Peristiwa traumatik

Sebuah pengalaman buruk atau peristiwa traumatis bisa membuat seseorang merasa terancam, ketakutan, agitasi, dan cemas meski peristiwa tersebut telah lama berlalu. Sebuah perasaan trauma tidak diukur dari apa kejadian tersebut, melainkan bagaimana seseorang menghadapinya.

Jika tidak ditangani dengan benar, kejadian traumatis bisa membuat seseorang sangat tersiksa secara batin. Mereka sangat waspada terhadap semua hal yang terjadi di sekitar dan bersikap overprotektif. Mereka lantas mengekspresikan stres itu dengan melakukan tindakan perasaan emosional yang berlebihan, seperti marah dan melukai orang lain. 

Cara Mengatasi Agitasi

1, Konsumsi obat penenang dan antidepresan

Contoh obat penenang yang biasa digunakan untuk meredakan gejala perasaan emosional yang berlebihan adalah midazolam dan olanzapine. Obat-obatan itu bisa membuat orang menjadi lebih tenang dan berpikir lebih jernih.

Untuk mendapatkan efek optimal, perlu diketahui bahwa obat antidepresan harus diminum dalam jangka waktu yang lama. Obat antidepresan biasanya butuh waktu dikonsumsi selama 2-4 minggu untuk bisa bekerja efektif. Sementara itu, penderita perasaan emosional yang berlebihan disarankan untuk meminumnya selama 6-12 bulan.

2. Konseling

Cara mengatasi perasaan emosional yang berlebihan berikutnya adalah dengan melakukan konseling ke psikiater. Jangan merasa malu untuk bertemu psikiater, mereka memiliki kualifikasi untuk mengupas perasaan dan pikiran seseorang. Salah satu jenis terapi yang bisa dicoba adalah cognitive behavioral therapy (CBT).

Terapis akan mencoba melakukan beberapa cara untuk bisa memahami masalah si penderita. Biasanya terapis akan berbicara dengan lembut, menawarkan tempat yang tenang, dan memberi ruang lebih untuk bernapas.

3. Melakukan self-healing

Saat ini, kesehatan mental telah menjadi topik yang tidak lagi tabu untuk dibicarakan. Sobat Pintar mungkin sempat membaca berita mengenai petenis Jepang Naomi Osaka yang mengundurkan diri dari gelaran French Open 2021 karena merasa stres oleh tekanan media. 

Bagi Naomi, menyendiri merupakan cara untuk melakukan self-healing. Beberapa metode self-healing yang bisa Sobat Pintar coba adalah berjalan santai di bawah pepohonan, mengobrol dengan orang tersayang, atau banyak beristirahat. Ciptakanlah lingkungan yang tenang untuk kesehatan mental Sobat Pintar.

Itulah penyebab dan cara mengatasi agitasi yang perlu Sobat Pintar ketahui. Namun, perlu dipahami bahwa sebaiknya Sobat Pintar tidak mendiagnosis kondisi kejiwaan sendiri. Apabila Sobat Pintar atau orang terdekat mengalami beberapa kondisi di atas, segera konsultasikan dengan dokter.

Jangan Sampai Tertipu, Inilah Daftar Fintech Resmi Terbaru OJK 2021

Kredit Pintar - pinjaman online yang terdaftar di ojk
mobile-closeKredit PintarDownload