Culture Shock: Tahapan, Gejala dan Cara Mengatasinya

25 Jun 2021 by Laruan

Menempuh pendidikan tidak hanya bisa dilakukan di dalam negeri saja. Banyak orang yang memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri. Saat belajar di luar negeri, tentu seseorang perlu untuk melakukan berbagai adaptasi agar dapat bertahan dan menyesuaikan diri dengan pola dan budaya kehidupan yang ada pada negara yang menjadi tempat tinggal barunya selama menempuh pendidikan. Tak jarang, seseorang bahkan mengalami culture shock atau gegar budaya.

Culture Shock: Tahapan, Gejala dan Cara Mengatasinya

Culture shock atau gegar budaya dapat diartikan sebagai perasaan yang gelisah, cemas, bingung, dan juga cemas yang dialami oleh seseorang yang baru menempati suatu daerah atau wilayah baru dalam waktu yang cenderung lama atau bukan hanya sekadar untuk liburan. Gegar budaya yang umumnya terjadi adalah masalah proses berkomunikasi karena belum menguasai suatu bahasa asing secara lancar. 

Simak uraian berikut ini untuk mengetahui apa saja permulaan, gejala, dan bagaimana cara mengatasi gegar budaya:

Tahapan Culture Shock

Berdasarkan informasi yang tertera pada Now Health International, terdapat 4 permulaan yang terjadi pada proses gegar budaya yang terjadi di daerah baru, ditambah 1 permulaan ketika seseorang kembali ke kampung halamannya. Tahapan yang pertama adalah yang kerap disebut dengan Honeymoon Stage. Tahapan pertama ini terjadi pada kurun waktu mulai dari minggu pertama hingga minggu keempat atau ketika telah genap satu bulan.

Permulaan gegar budaya Honeymoon Stage akan memberikan perasaan euphoria dan kebahagiaan karena ada rasa tertarik ketika tinggal di luar negeri. Kekaguman dan perasaan euphoria tersebut bisa disebabkan karena lingkungan yang berbeda, panorama yang indah, kemajuan teknologi modern, hingga beragam tradisi dan kebiasaan unik yang berkembang pada daerah tersebut. Permulaan pertama gegar budaya akan meninggalkan pengalaman-pengalaman yang sangat menyenangkan, namun permulaan awal tidak akan berlangsung lama. 

Pada permulaan kedua yaitu Negotiation Stage, seorang perantau akan mulai merasakan frustasi dan menemui beragam rintangan maupun kesulitan yang terasa tidak ada ujungnya. Misalnya adalah ketika seseorang kebingungan harus memenuhi kebutuhan makan dengan membeli di restoran mana, tersesat saat jalan pulang, tidak terbiasa dengan pola hidup yang ada, dan lain sebagainya. Terjadinya perubahan kondisi antara kampung halaman seseorang dengan pola hidup di daerah baru saat belajar di luar negeri tentu saja akan membuat seseorang merasa putus asa dan rindu ingin kembali ke kampung halaman. Tidak jarang pada fase ini seseorang akan mengalami penurunan kesehatan pula.

Di permulaan ketiga, yaitu Adjustment Stage, seseorang telah berada pada daerah baru dalam kurun waktu lebih dari 6 bulan. Sobat Pintar akan mulai menerima kenyataan dan berdamai dengan realita yang ada. Perlahan-lahan diri Sobat Pintar bisa menyesuaikan dan memahami situasi lingkungan yang ada. Pada tahap ini biasanya perantau akan mulai membangun networking dengan masyarakat sekitar dan berusaha mempelajari bahasa, budaya, dan pola hidup yang ada dengan lebih bersungguh-sungguh.

Selanjutnya, Adaptation Stage merupakan tahap keempat di mana tahap ini adalah tahap terakhir gegar budaya selama di luar negeri. Seseorang akan mulai merasa nyaman dengan segala situasi hidupnya meskipun tempat tinggalnya adalah tempat yang asing. Meskipun sudah tidak ada euphoria seperti pada tahap pertama, seseorang yang telah berada pada tahap Adapation Stage akan merasa lebih nyaman dan bahagia menetap pada tempat tinggal barunya.

Apabila seseorang telah tinggal dalam jangka waktu cukup lama saat belajar di luar negeri, maka ia akan berisiko mengalami permulaan kelima yaitu Re-entry Shock ketika ia kembali ke kampung halaman atau daerah asalnya. Biasanya perasaan yang muncul pada tahap ini adalah perasaan sedih karena melihat sudah banyak perbedaan dan perkembangan yang terjadi di dalam keluarga dan lingkungannya selama ia tak ada di tengah-tengah mereka.

Gejala Culture Shock

Ada berbagai gejala gegar budaya yang dialami oleh seseorang. Pada umumnya, gejala yang sering menandai adalah adanya perasaan bosan terhadap kondisi lingkungan yang ada dan kehidupan barunya. Perasaan bosan ini muncul karena merasa tidak lagi ada hal menarik yang bisa ditemukan pada daerah baru tersebut karena perasaan euphoria telah berakhir. 

Kemudian gejala selanjutnya adalah perilaku yang cenderung memilih untuk menarik diri dari kehidupan sosial yang ada di dalam lingkungan barunya. Hal ini dikarenakan seorang perantau akan merasa frustasi dengan lingkungan barunya dan tidak ingin menambah beban hidup atau permasalahan sehingga lebih baik berdiam di dalam tempat tinggal dan menarik diri dari lingkungan sosial.

Hal lain yang menandai gegar budaya adalah kondisi fisik di mana tubuh akan lebih mudah merasa kelelahan. Kelelahan pada fisik biasanya juga dimulai dari kelelahan batin dan pikiran yang membuat seseorang akan terus merasa tidak bersemangat dan kehilangan energy. Meskipun telah cukup istirahat dan makan yang cukup, seseorang akan tetap merasa mudah lelah jika pikirannya tidak bahagia.

Selanjutnya, ciri fisik lainnya adalah gangguan tidur di mana seseorang akan mengalami kesulitan tidur. Ketika waktu tidur tiba, seorang yang mengalami gegar budaya biasanya akan dipenuhi dengan berbagai pikiran atau overthinking sehingga sulit untuk terlelap. Mereka juga cenderung diliputi oleh perasaan yang tidak berdaya, sering mengomentari kebiasaan atau budaya yang berkembang di lingkungan barunya, merasa rindu terhadap daerah asal, dan merasa depresi.

Cara Mengatasi gegar budaya

Gegar budaya dapat diatasi dengan baik sehingga tidak perlu dikhawatirkan. Cara mengatasi yang pertama adalah dengan terlebih dahulu seluk beluk terkait daerah tujuan sebelum Sobat Pintar benar-benar pindah ke sana. Pelajari terkait apa saja budaya, tradisi, kebiasaan, peraturan, dan perilaku-perilaku masyarakat sekitar yang berkembang di daerah tersebut.

Selanjutnya, cobalah untuk menghafal berbagai lokasi-lokasi yang penting di daerah tersebut. Misalnya dengan menghafal dimana jalan menuju stasiun, bagaimana rute angkutan umum menuju ke tempat publik, letak supermarket, rumah sakit, kantor polisi dan lain sebagainya. Perhatikan pula berbagai bangunan-bangunan yang ada di sekitar tempat tinggal sehingga Sobat Pintar bisa menghafal ciri-ciri daerah lingkungan terdekat.

Cara mengatasi gegar budaya selanjutnya adalah dengan membangun networking atau relasi di daerah baru. Diharapkan dengan cara ini Sobat Pintar akan lebih mudah untuk mendapat bantuan dan informasi terkait hal-hal yang Sobat Pintar perlukan selama di daerah tersebut. Namun perlu berhati-hati untuk memilih dengan siapa Sobat Pintar menjalin relasi karena keselamatan Sobat Pintar sebagai perantau tetaplah nomor satu.

Cara yang terakhir yaitu dengan menerapkan pola pikir yang terbuka atau open mindset. Dengan berpikiran terbuka, Sobat Pintar akan lebih mudah untuk mempelajari sesuatu, bersikap dewasa dan bijak dalam menilai sudut pandang orang-orang yang ada pada daerah tersebut, Sobat Pintar juga akan lebih berlapang dada dalam memahami masalah dan rintangan yang Sobat Pintar hadapi selama di tanah rantau.

Kredit Pintar - pinjaman online yang terdaftar di ojk
08 Nov 2021
mobile-closeKredit PintarDownload