Cara Membaca Oximeter yang Benar dan 4 Hal Lainnya

18 Aug 2021 by Laruan

Oximeter adalah istilah yang belakangan ini sering muncul secara online dalam berbagai artikel dan informasi kesehatan maupun berita yang berhubungan dengan COVID-19. 

Tetapi sebenarnya apa fungsi dan bagaimana cara membaca oximeter yang benar?

Seperti yang diketahui, pulse oximetry atau yang lebih umum disebut oximeter adalah alat berbentuk klip yang digunakan untuk mengukur saturasi oksigen dalam darah seseorang. 

Pada pasien COVID-19, pengukuran saturasi oksigen ini sangatlah penting dilakukan untuk mencegah terjadinya happy hypoxia yang bisa berujung pada kematian. Bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyatakan bahwa pasien yang menjalani isolasi mandiri wajib untuk memiliki oximeter.

Hati-hati terhadap tindak penipuan: Data KTP Aman Terlindungi Dengan 5 Cara Berikut 

Cara Membaca Oximeter yang Benar dan 4 Hal Lainnya

1. Bagaimana Cara Mengukur Saturasi Oksigen Menggunakan Oximeter?

Untuk mengukur saturasi oksigen menggunakan oximeter sebenarnya cukup mudah, yaitu dengan cara menjepitkan perangkat elektronik kecil yang disebut oximeter tersebut ke ujung jari atau lubang telinga. Kemudian oximeter akan memancarkan cahaya inframerah yang melewati kuku, kulit, jaringan, dan darah.

Di sisi lain jari, sensor oximeter bertugas untuk mendeteksi dan mengukur jumlah cahaya yang berhasil melewati jari tanpa diserap oleh jaringan dan darah. Jumlah cahaya yang terdeteksi oleh sensor itulah yang dibaca sebagai hasil pengukuran saturasi oksigen dalam darah seseorang.

Adapun jumlah cahaya yang berhasil terdeteksi oleh oximeter tergantung pada beberapa faktor berikut ini:

  1. Panjang jalur cahaya pada zat penyerap, dalam hal ini jari.
  2. Konsentrasi zat penyerap cahaya.
  3. Oksihemoglobin dan deoksihemoglobin, di mana keduanya menyerap cahaya inframerah secara berbeda.

Pemeriksaan ini sendiri sama sekali tidak menyakitkan dan hasilnya sudah bisa didapatkan dalam waktu beberapa detik saja. Selain hasil pengukuran saturasi oksigen yang ditunjukkan dengan tulisan SpO2, umumnya oximeter juga menunjukkan detak jantung.

2. Cara Membaca Oximeter dan Mengetahui Interpretasi Saturasi Oksigen

Menurut Healthline, oximeter yang bagus bisa memberikan hasil interpretasi saturasi oksigen dengan selisih perbedaan 2 hingga 4 persen. Sebagai contoh, jika pada oximeter menunjukkan hasil SpO2 adalah 92 persen, itu artinya saturasi oksigen di dalam darah orang yang diperiksa berkisar antara 90-94 persen.

Di mana pada orang yang tidak memiliki kondisi medis tertentu, hasil saturasi oksigen normalnya berkisar pada angka 95 hingga 100 persen. 

Sementara orang dengan hasil oximeter di bawah angka 92 persen, disarankan untuk sesegera mungkin menghubungi layanan kesehatan terdekat. Karena dikhawatirkan itu merupakan tanda-tanda hipoksia dan pneumonia, suatu kondisi di mana tidak ada cukup oksigen yang mencapai jaringan tubuh. Terutama jika hasil oximeter berada di angka 88 persen atau lebih rendah.

Perlu diketahui bahwa baik yang menunjukkan gejala maupun tidak, hipoksia bisa mengganggu kinerja organ dan jaringan tubuh seseorang. Apabila dibiarkan tanpa penanganan medis, kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan organ vital seperti otak, jantung, dan ginjal. Bahkan berisiko menyebabkan komplikasi berbahaya.

Namun, perlu diingat pula bahwa dalam beberapa kasus orang dengan kondisi medis tertentu, saturasi oksigen yang berada di bawah 95 persen masih bisa dianggap normal. Salah satunya adalah orang dengan gangguan paru-paru seperti PPOK, sebagaimana disampaikan oleh Dr. Denyse Lutchman Singh, MD, dokter spesialis paru di Yale Medicine. 

Cara Membaca Oximeter yang Benar dan 4 Hal Lainnya

3. Waspadai Munculnya Gejala Hipoksia Saat Menggunakan Oximeter di Rumah

Selain memahami cara membaca oximeter yang benar dan tepat, penting pula bagi Sobat Pintar untuk bisa mengetahui gejala-gejala saturasi oksigen rendah (hipoksia) untuk mencegah terjadinya hal yang tidak diinginkan.

Bagaimanapun, beberapa faktor bisa mempengaruhi akurasi hasil oximeter seperti:

  1. Sirkulasi darah yang buruk
  2. Ketebalan kulit
  3. Pigmentasi atau warna kulit
  4. Kebiasaan merokok
  5. Penggunaan cat kuku atau henna
  6. Kebersihan kuku dan jari tangan
  7. Perbedaan sensor antara satu oximeter dengan yang lainnya
  8. Suhu kulit pada saat pemeriksaan dilakukan
  9. Terlalu banyak bergerak atau menggoyangkan jari yang dipasangi oximeter
  10. Berada di dalam ruangan dengan paparan cahaya yang terlalu banyak
  11. Keracunan karbon monoksida
  12. Memiliki berat badan berlebih atau obesitas
  13. Kondisi medis tertentu seperti gangguan pembuluh darah dan anemia
  14. Intervensi elektromagnetik
  15. Kesalahan pemasangan perangkat

Bahkan oximeter juga tidak bisa menunjukkan hasil yang akurat apabila saturasi oksigen di dalam darah jumlahnya terlalu banyak (hiperoksia). Suatu kondisi medis yang juga bisa membahayakan nyawa. 

Oleh karena itu, jika memungkinkan, lakukanlah pemeriksaan saturasi oksigen secara berkala dan menggunakan oximeter yang berbeda-beda. Jika diperlukan, Sobat Pintar juga bisa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter untuk menentukan seberapa sering pemeriksaan saturasi oksigen menggunakan oximeter harus dilakukan. 

Selain itu, ketika menggunakan oximeter secara mandiri di rumah, perhatikan juga beberapa gejala yang muncul saat seseorang memiliki saturasi oksigen yang rendah. Adapun gejala yang dimaksud antara lain:

  1. Bibir, wajah, dan kuku berwarna kebiruan
  2. Mengalami sesak napas, kesulitan bernapas, atau batuk yang parah
  3. Tampak gelisah dan tidak nyaman
  4. Nyeri dada
  5. Denyut nadi sangat cepat

Segera hubungi dokter jika Sobat Pintar merasakan atau melihat gejala-gejala di atas pada orang terdekat. Berapa pun hasil saturasi oksigen yang didapatkan dari perangkat oximeter yang digunakan secara mandiri di rumah.

4. Tidak Hanya Digunakan Pada Pasien COVID-19

Pada dasarnya, oximeter bukan hanya digunakan pada pasien dengan kasus COVID-19. Di mana dalam dunia medis, perangkat ini umumnya digunakan untuk memantau kesehatan pasien dengan kondisi medis apapun yang bisa mempengaruhi kadar oksigen. Beberapa kondisi medis tersebut di antaranya adalah:

  1. Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK)
  2. Kanker paru-paru
  3. Asma
  4. Radang paru-paru
  5. Anemia
  6. Cacat jantung bawaan
  7. Gagal jantung atau serangan jantung
Cara Membaca Oximeter yang Benar dan 4 Hal Lainnya

5. Bagaimana Cara Mendapatkan Oximeter?

Terdapat beragam jenis, bentuk, dan merek oximeter. Sobat Pintar pun bisa mendapatkannya melalui 2 macam cara berbeda. Bahkan harganya pun sangat beragam, tergantung pada fitur yang dimilikinya.

Pertama, oximeter resep. Oximeter kategori ini hanya bisa didapatkan dengan resep dokter dan merupakan yang paling umum digunakan di unit pelayanan kesehatan seperti rumah sakit dan klinik kesehatan. Tetapi bisa juga diresepkan pada pasien dengan kondisi kesehatan tertentu untuk digunakan di rumah.

Kedua, oximeter non resep yang bisa dengan mudah didapatkan di toko obat atau online shop. Saat ini, oximeter jenis ini juga sudah bisa didapatkan dari layanan telemedicine melalui ponsel pintar. 

Untuk oximeter yang tidak perlu menggunakan resep dokter Sobat Pintar bisa memilihnya berdasarkan rekomendasi kerabat atau review yang sudah banyak beredar di internet. Bisa juga memilihnya sesuai dengan dana yang dimiliki.

Nah, itulah penjelasan mengenai pengertian, fungsi, dan cara membaca oximeter. Apabila saat ini Sobat Pintar sedang mencari oximeter untuk memeriksa kondisi diri sendiri atau kerabat yang sedang menjalani isoman, jangan lupa untuk menggunakannya sesuai dengan petunjuk dokter.

Hati-hati terhadap tindak penipuan: 3 Alasan Kredit Pintar Jadi Fintech P2P Lending Aman 

Kredit Pintar - pinjaman online yang terdaftar di ojk
mobile-closeKredit PintarDownload