Sobat Pintar, bahan bakar pesawat atau aviation fuel merupakan komponen vital dalam industri penerbangan yang memiliki spesifikasi khusus berbeda dari bahan bakar kendaraan darat. Jenis bahan bakar yang paling umum digunakan pesawat komersial adalah avtur (aviation turbine fuel) atau yang dikenal secara internasional sebagai Jet A-1.
Proses produksi, penyimpanan, hingga pengisian bahan bakar pesawat memiliki standar keamanan yang sangat ketat karena berkaitan langsung dengan keselamatan penerbangan. Harga avtur juga menjadi salah satu komponen biaya operasional terbesar bagi maskapai penerbangan di seluruh dunia. Mari kita bahas jenis-jenis bahan bakar pesawat, harga dan konsumsinya, serta perkembangan bahan bakar ramah lingkungan di industri penerbangan.
Jenis-Jenis Bahan Bakar Pesawat
Bahan bakar pesawat memiliki beberapa jenis yang disesuaikan dengan tipe mesin dan kebutuhan operasional penerbangan. Setiap jenis memiliki karakteristik, titik nyala, dan spesifikasi teknis yang berbeda sesuai standar internasional.

Avtur (Jet A-1)
Avtur atau Jet A-1 adalah jenis bahan bakar yang paling banyak digunakan oleh pesawat komersial berjenis jet di seluruh dunia. Bahan bakar ini berbasis kerosene (minyak tanah) yang telah dimurnikan dengan standar ketat dan memiliki titik beku minus 47 derajat Celsius sehingga tetap berfungsi pada ketinggian jelajah di atas 30.000 kaki. Titik nyala avtur sekitar 38 derajat Celsius, lebih tinggi dari bensin sehingga lebih aman dalam penyimpanan dan penanganan. Di Indonesia, Pertamina menjadi produsen dan distributor utama avtur melalui unit bisnis Pertamina Patra Niaga.
Avgas (Aviation Gasoline)
Avgas atau aviation gasoline adalah bahan bakar khusus untuk pesawat bermesin piston, biasanya pesawat kecil, pesawat latih, dan pesawat propeller. Berbeda dengan avtur, avgas memiliki angka oktan yang sangat tinggi yaitu 100 hingga 130 untuk memenuhi kebutuhan mesin piston pesawat. Jenis avgas yang paling umum digunakan adalah 100LL (Low Lead) yang masih mengandung sedikit timbal. Penggunaan avgas semakin terbatas karena mayoritas pesawat modern menggunakan mesin jet turbofan yang membutuhkan avtur.
Perbedaan Avtur dengan Bensin dan Solar
Avtur, bensin, dan solar sama-sama berasal dari penyulingan minyak bumi namun memiliki karakteristik yang sangat berbeda. Avtur memiliki titik nyala yang lebih tinggi dari bensin (38 derajat vs minus 43 derajat Celsius) sehingga lebih aman dan tidak mudah terbakar pada suhu ruangan. Dibandingkan solar, avtur memiliki kandungan sulfur yang jauh lebih rendah dan telah melalui proses pemurnian yang lebih ketat. Mencampurkan atau mengganti avtur dengan bahan bakar lain sangat berbahaya dan dilarang keras karena bisa menyebabkan kerusakan mesin dan risiko kecelakaan fatal.
Baca juga: Jenis Bahan Bakar Pesawat Yang Harus Kamu Tahu
Harga dan Konsumsi Bahan Bakar Pesawat
Biaya bahan bakar menjadi komponen terbesar dalam operasional maskapai penerbangan, mencapai 25 hingga 40 persen dari total biaya operasi. Fluktuasi harga avtur di pasar global berpengaruh langsung terhadap harga tiket pesawat yang dibayar penumpang.

Harga Avtur di Indonesia
Harga avtur di Indonesia mengikuti mekanisme pasar internasional dan ditetapkan oleh Pertamina setiap bulan. Pada tahun 2025, harga avtur di Indonesia berkisar antara Rp12.000 hingga Rp16.000 per liter tergantung lokasi bandara dan kondisi pasar minyak dunia. Harga avtur di bandara-bandara di luar Jawa biasanya lebih mahal karena biaya distribusi yang lebih tinggi. Kenaikan harga avtur secara langsung berdampak pada kenaikan fuel surcharge yang dibebankan kepada penumpang dalam harga tiket pesawat.
Konsumsi Bahan Bakar Berdasarkan Jenis Pesawat
Setiap jenis pesawat memiliki konsumsi bahan bakar yang berbeda tergantung ukuran, jenis mesin, dan jarak tempuh. Pesawat narrowbody seperti Boeing 737-800 yang umum digunakan untuk penerbangan domestik Indonesia mengonsumsi sekitar 2.500 hingga 3.000 liter per jam. Pesawat widebody seperti Boeing 777 untuk penerbangan jarak jauh mengonsumsi sekitar 7.000 hingga 8.000 liter per jam. Untuk penerbangan Jakarta ke Bali yang berdurasi sekitar 1,5 jam, sebuah Boeing 737 membutuhkan kurang lebih 4.500 liter avtur.
Faktor yang Mempengaruhi Konsumsi Bahan Bakar
Beberapa faktor utama yang mempengaruhi konsumsi bahan bakar pesawat antara lain berat total pesawat termasuk jumlah penumpang dan kargo, kecepatan terbang, ketinggian jelajah, kondisi cuaca dan arah angin, serta efisiensi mesin. Penerbangan pada ketinggian optimal sekitar 35.000 hingga 40.000 kaki menghasilkan efisiensi bahan bakar terbaik karena udara yang lebih tipis mengurangi hambatan. Maskapai penerbangan terus berupaya mengoptimalkan rute dan prosedur penerbangan untuk menekan konsumsi bahan bakar dan biaya operasional.
Baca juga: Tips Dapatkan Tiket Pesawat Murah Untuk Liburan
Produksi dan Masa Depan Bahan Bakar Pesawat
Industri penerbangan global tengah menghadapi tekanan besar untuk mengurangi emisi karbon dan beralih ke sumber energi yang lebih ramah lingkungan. Pengembangan bahan bakar alternatif menjadi salah satu solusi utama yang sedang diupayakan oleh berbagai pihak.

Proses Produksi dan Distribusi Avtur
Avtur diproduksi melalui proses penyulingan (distilasi) minyak mentah di kilang minyak. Minyak mentah dipanaskan dalam menara distilasi dan fraksi kerosene yang keluar pada suhu 150 hingga 275 derajat Celsius menjadi bahan dasar avtur. Setelah proses distilasi, avtur melalui tahap pemurnian lebih lanjut termasuk hydrotreating untuk menghilangkan sulfur dan penambahan aditif anti-icing dan antioksidan. Distribusi avtur ke bandara dilakukan melalui pipa khusus, truk tangki, atau kapal tanker dengan standar keamanan yang sangat ketat di setiap tahapannya.
Sustainable Aviation Fuel (SAF)
Sustainable Aviation Fuel atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan adalah bahan bakar yang diproduksi dari sumber terbarukan seperti minyak goreng bekas, limbah pertanian, atau tanaman non-pangan. SAF memiliki komposisi kimia yang mirip dengan avtur konvensional sehingga bisa digunakan langsung di mesin pesawat yang ada tanpa modifikasi. Penggunaan SAF dapat mengurangi emisi karbon hingga 80% dibandingkan avtur konvensional. Beberapa maskapai besar seperti Singapore Airlines dan Garuda Indonesia sudah mulai menggunakan campuran SAF dalam operasional penerbangan tertentu.
Perkembangan Teknologi Bahan Bakar Pesawat
Selain SAF, beberapa teknologi bahan bakar alternatif sedang dikembangkan untuk masa depan penerbangan. Pesawat bertenaga listrik sudah mulai diuji coba untuk penerbangan jarak pendek meski masih terkendala kapasitas baterai yang terbatas. Hidrogen juga menjadi kandidat kuat sebagai bahan bakar pesawat masa depan karena menghasilkan nol emisi karbon saat pembakaran. Airbus telah mengumumkan rencana membuat pesawat komersial bertenaga hidrogen pertama yang ditargetkan beroperasi pada tahun 2035 sebagai langkah revolusioner menuju penerbangan tanpa emisi karbon.
Sobat Pintar, bahan bakar pesawat merupakan komponen krusial yang menentukan keselamatan, efisiensi, dan biaya operasional penerbangan. Memahami jenis-jenis bahan bakar pesawat dan perkembangan teknologinya membantumu melihat bagaimana industri penerbangan terus berinovasi menuju masa depan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Baca juga: Daftar Harga BBM Pertamina Hari Ini
Artikel ini ditulis oleh Kredit Pintar, perusahaan fintech berizin dan diawasi OJK yang memberi kemudahan dalam penyaluran pinjaman daring bagi seluruh rakyat Indonesia. Ikuti blog Kredit Pintar untuk mendapatkan informasi, tips bermanfaat, serta promo menarik lainnya.



