Sedang Naik Daun, Mari Mengenal Lebih Jauh Apa itu ETF?

Sedang Naik Daun, Mari Mengenal Lebih Jauh Apa itu ETF?

11 May 2021 by kreditpintar
apa itu etf

Apa itu ETF? Pertanyaan ini mungkin sering muncul di benakmu, setelah melihat Exchange Traded Funds atau ETF tersebut begitu naik daun dan sering diperbincangkan. Terlebih mungkin Sobat Pintar mulai penasaran pada manfaat, jenis dan resikonya. Lalu sebenarnya, apa itu ETF?

Sebelumnya, mari kita membuat analogi sederhana. Jika Sobat Pintar punya beberapa kue, lebih baik mana dari sisi keamanan? Semua kuemu disimpan di dalam satu wadah yang sama, atau Sobat Pintar bagi ke beberapa wadah.

Jika pilihan pertama yang Sobat Pintar ambil, bayangkan wadah tersebut jatuh. Kamu akan kehilangan semua kue. Namun, jika kuemu disimpan ke beberapa wadah terpisah. Jika salah satu wadah terjatuh, Sobat Pintar masih punya kue di wadah yang lain.

Sekarang mari berbicara investasi. Rasanya kurang tepat jika Sobat Pintar hanya menyimpan investasi pada satu instrumen yaitu saham. Sudah jelas, banyak risiko yang bisa membuatmu jatuh di kemudian hari. Pertimbangkan untuk melakukan diversifikasi investasi.

Diversifikasi investasi sendiri adalah strategi investasi dimana Sobat Pintar menempatkan dana investasi ke instrumen yang berbeda-beda, berdasarkan potensi return, risiko, dan likuiditasnya. 

Jika saat ini Sobat Pintar hanya berinvestasi di instrumen saham, maka cobalah mencari instrumen investasi lain yang menurutmu cukup aman. 

Harapannya, ketika investasi saham yang Sobat Pintar lakukan sedang mengalami penurunan, maka investasi lain dapat menutup risiko tersebut. Sehingga risiko kerugian terminimalisir. 

Nah, salah satu instrumen yang bisa jadi pilihan untuk dipasangkan dengan instrumen saham adalah Exchange Traded Funds (ETF).

Apa itu ETF?

Sekarang mari kita pecahkan pertanyaan apa itu ETF? Exchange Traded Funds merupakan reksa dana terbuka yang berbentuk kontrak investasi kolektif dengan unit penyertaan diperdagangkan di bursa layaknya saham.

Reksa dana ini pertama kali digulirkan di tahun 1993 oleh State Street Global Advisors. Popularitasnya pun terus tumbuh sejak saat itu, sehingga berhasil mengumpulkan aset dengan kecepatan yang tinggi. 

Meskipun pada dasarnya termasuk reksa dana, namun produk ini diperdagangkan seperti saham-saham yang ada di bursa efek. Jadi bisa dibilang, ETF menggabungkan dua unsur, yaitu reksa dana (dalam hal pengelolaan dana) dan saham (dalam hal transaksi jual beli).

Walau mulai populer di Indonesia, belum banyak yang mengetahui keunggulan, macam serta resiko dari reksa dana ini. Mari kita bahas satu per satu.

Manfaat atau Keunggulan

Salah satu hal terbaik dari ETF adalah fleksibilitasnya. Pasalnya, instrumen satu ini dapat ditransaksikan dengan mudah, dimanapun dan kapanpun melalui smartphone atau PC.

Reksa dana ini juga menawarkan ketenangan karena dana yang Sobat Pintar investasikan akan dikelola oleh ahli. Instrumen dalam reksa dana ini biasanya dikelola oleh manajer investasi seperti halnya reksa dana biasanya. Kabar baiknya, management fee untuk ETF relatif lebih rendah dari reksa dana.

Lalu transparansinya pun sangat baik. Instrumen dalam portofolio ETF dapat diakses dengan bebas oleh investor. Sehingga sebagai investor Sobat Pintar dapat leluasa mengawasi investasi yang Sobat Pintar lakukan.

Gimana soal likuiditas? ETF mempunyai likuiditas yang cukup tinggi. Instrumen satu ini dapat dicairkan kapan saja menjadi dana tunai karena dapat diperdagangkan di bursa efek atau pun dealer partisipan.

Bisa dikatakan, Likuiditas pada ETF tidak bergantung pada banyaknya perdagangan ETF yang terjadi harian, namun lebih terikat pada likuiditas saham yang termasuk dalam produk ETF tersebut.

Cakupannya pun luas, memiliki satu ETF sama dengan memiliki puluhan saham-saham unggulan. ETF yang ditawarkan juga variatif. Jadi berinvestasi pada reksa dana etf, akan memberikan daya jangkau yang lebih luas untuk investor.

Macam ETF

ETF dibagi menjadi dua macam, yaitu aktif dan pasif. ETF aktif dikelola manajer investasi (MI) secara aktif. MI akan memaksimalkan kinerja ETF berdasarkan kriteria dan pemilihan efek. 

Macam kedua adalah ETF pasif. Untuk yang pasif, dikelola secara pasif. Pemilihan efek mengacu kepada suatu indeks yang sudah ditentukan oleh MI. Lalu kinerja portofolio ETF akan bergantung pada kinerja dari indeks acuan tersebut.

Risiko atau Kekurangan

Dilansir dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), risiko berinvestasi reksa dana ETF hampir sama dengan jenis reksa dana lainnya. Yaitu, berkurangnya nilai unit karena efek-efek yang dikelola juga memiliki kemungkinan penurunan nilai investasi.

Selain itu, walau dengan nilai yang tidak terlalu besar, reksa dana ini mempunyai resiko terkena biaya pajak capital gain. 

Ada juga potensi risiko dari biaya selisih unit penyertaan, yang timbul akibat selisih harga jual dan harga beli yang disebabkan unit penyertaannya tidak dijual pada Nilai Aktiva Bersih (NAB).

Meski begitu, menurut Bisnis.com, reksa dana ETF ini dinilai masih punya prospek yang cukup baik kedepannya. Meskipun ketidakpastian pasar masih berlangsung di tengah pandemi, reksa dana ETF diprediksi tidak akan terlalu berdampak.

Soalnya, pengelolaannya lebih transparan dan pergerakannya mudah untuk diawasi. Enggak cuma itu, ETF juga memberikan market performance yang lebih konsisten.

Cara Berinvestasi ETF

Setelah tahu manfaat, jenis dan risiko dari investasi reksa dana ETF, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara berinvestasi ETF? 

Transaksi jual dan beli ETF bisa dilakukan di pasar primer atau pasar sekunder. Kedua pasar tersebut mempunyai perbedaan cara, berikut perbedaan yang dimaksud

Pasar Primer

Pada pasar primer, Investor melakukan pembelian dan penjualan kembali unit penyertaan ETF ke MI dalam satuan unit kreasi. Satu unit kreasi senilai 100.000 unit penyertaan. Mekanisme ini berlaku untuk transaksi dengan nominal besar.

Terlihat ada sedikit perbedaan dengan harga pertama reksa dana yang dimulai dari angka 1.000, harga pertama di ETF bisa dimulai di harga berapa pun. 

Umumnya, MI akan membuat harga pertama reksa dana ETF sama nilainya dengan indeks acuan, sehingga lebih memudahkan dalam memantau perbandingannya dengan indeks acuan.

Pasar Sekunder

Sebaliknya, pada pasar sekunder pemodal atau investor dapat membeli dan menjual unit penyertaan ETF dalam satuan lot. Nilai 1 lot sendiri setara dengan 100 unit penyertaan melalui Bursa Efek Indonesia (BEI). Transaksi ini direkomendasikan bagi investor ritel yang nilai transaksinya relatif lebih kecil.

Bisa dibilang, investor tidak melakukan pembelian ETF dari MI, melainkan dari investor lain yang memiliki ETF pada harga dan jumlah yang disepakati. 

Terdapat kelemahan dari mekanisme jual beli di pasar sekunder ini. Yaitu, jika tidak ada permintaan dan penawaran yang pas, maka tidak akan terjadi transaksi. Hal ini dapat diantisipasi, dengan adanya dealer partisipan.

Dealer partisipan adalah perusahaan sekuritas yang akan menyediakan likuiditas untuk ETF. Mereka menjadi pihak yang bertindak sebagai pembeli dan penjual ketika tidak adanya permintaan dan penawaran yang cukup.

Supaya investor tidak mengalami kesulitan membeli atau menjual ETF pada Bursa Efek, Dealer partisipan akan memasukkan order permintaan dan penawaran pada harga pasar.

Sobat Pintar, setelah mengetahui berbagai seluk ETF apakah Sobat Pintar jadi tertarik berinvestasi?

Jika Sobat Pintar butuh dana pinjaman cepat, Kredit Pintar sebagai penyedia pinjaman online 24 jam siap menyediakan dana untuk berbagai kebutuhanmu. Install aplikasi Kredit yang tersedia di Play Store dan dapatkan dana pinjaman online 24 yang selalu sedia setiap saat.

kredit pintar