Pengertian Resesi Ekonomi Dan Cara Menghadapinya

10 Oct 2022 by Ary Wibowo, Last edit: 10 Oct 2022

Kata resesi akhir-akhir ini sering disandingkan dengan kata ekonomi, menjadi resei ekonomi. Kedua istilah itu sering disebut semenjak kasus pandemi melanda selama tiga tahun terakhir.

Adanya kemunduran secara signifikan dalam bidang ekonomi hingga akhirnya mengubah tatanan ekonomi secara drastis.

Dampak dari resesi ekonomi masih belum banyak dipahami meskipun sangat mudah dirasakan. 

Apa Itu Resesi Ekonomi?

Resesi merupakan penurunan secara signifikan di dalam kegiatan ekonomi di keseluruhan lingkup perekonomian.

Keberlangsungan resesi dapat berlangsung beberapa bulan hingga beberapa tahun. Penurunan aktivitas perekonomian dapat dilihat dari pendapatan riil, banyaknya lapangan kerja, tingginya angka pengangguran, produk domestik bruto riil, produksi industri serta tingkat penjualan grosir dan eceran. 

Sederhananya, arti dari resesi ekonomi adalah kelemahan dalam aktivitas berdagang dan industri yang seolah-olah terhenti karena menurunnya kegiatan tersebut.

Dapat disimpulkan jika resesi merupakan kondisi perekonomian negara tengah memburuk. Penurunan aktivitas dalam lingkup perekonomian ini berlangsung lama dan cenderung stagnan. 

Baca juga: 5 Hal yang Menyebabkan Resesi, Simak di Sini!

Penyebab Terjadinya Resesi Ekonomi

Peristiwa resesi dalam perekonomian tentunya karena disebabkan beberapa kejadian yang melatarbelakanginya.

Baik persitiwa yang terjadi secara disengaja maupun merupakan dampak dari suatu peristiwa yang tidak disengaja. Berikut ini beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya resesi. 

Baca juga: Pintar Hadapi Resesi Ekonomi, Siapkan Hal-Hal Ini | Kredit Pintar

1 ) Inflasi

Inflasi merupakan kenaikan harga suatu barang yang terjadi secara terus-menerus dan berlangsung cukup lama penyebab resesi ekonomi.

Inflasi sebenarnya biasa terjadi dan bukan suatu hal buruk karena inflasi ringan lebih mudah teratasi.

Namun jika inflasi ini bergerak secara berlebihan maka dapat membahayakan pertumbuhan ekonomi, bahkan dapat menyebabkan kemunduran ekonomi. 

2 ) Deflasi Berlebihan

Deflasi merupakan kebalikan dari inflasi, meski terlihat tidak berbahaya, deflasi justru dapat menyebabkan bahaya lebih besar.

Deflasi yaitu kondisi menurunnya harga-harga suatu barang yang berlangsung dari waktu ke waktu. Penurunan harga yang terjadi secara terus-menerus dapat membuat upah pekerja semakin mengecil dan mampu menekan harga-harga barang lebih drastis. 

Dampak deflasi lebih dirasakan oleh para pemilik usaha baik sebagai penyedia barang maupun jasa. Saat suatu unit bisnis ataupun individu berhenti mengeluarkan uang, maka akan berdampak pada rusaknya roda perekonomian.

Jika salah satu komponen berhenti berputar, maka komponen lain dalam roda ekonomi akan ikut berhenti dan keseluruhan roda akan rusak hingga timbul resesi ekonomi

3 ) Gelembung Aset

Pasar aset menggelmbung karena banyaknya investor yang menjual saham. Mereka melakukan hal tersebut karena rasa paniknya dan segera menjual sahamnya sehingga memunculkan resesi. 

Hal semacam ini dinamakan dengan kegembiraan irasional atau kebahagiaan pura-pura atau tidak masuk akal. 

Kegembiraan tersebut membuat pasar saham dan real estate menjadi menggembung. Gelembung tersebut lama-kelamaan akan pecah dan muncullah panic selling.

Fenomena panic selling ini yang akan menghancurkan pasar dan akhirnya menyebabkan resesi ekonomi

4 ) Ekonomi Goyah Mendadak

Ekonomi goyah mendadak atau guncangan yang terjadi secara mendadak di perekonomian dapat memicu resesi dan masalah lainnya.

Kemungkinan masalah yang timbul yaitu menumpuknya hutang baik kategori individu maupun perusahaan. Biaya hutang yang tinggi otomatis membuat biaya pelunasan juga melonjak tinggi hingga berada di titik tidak mampu melunasinya. 

5 ) Perkembangan Teknologi

Perkembangan teknologi juga menjadi pemicu resesi ekonomi. Sebagai contoh di abad ke-19 muncul penghematan tenaga kerja dengan pemanfaatan teknologi.

Perubahan ini membuat banyak profesi menjadi usang atau tidak berguna karena digantikan teknologi seperti perkembangan Artificial Intelligence (AI) dan robot dapat menggeser banyak mata pencaharian manusia. 

6 ) Tidak Seimbangnya Produksi dan Konsumsi

Ketidakseimbangan produksi dan konsumsi membuat rusak siklus ekonomi. Banyaknya produksi dengan tingkat konsumsi rendah dapat menyebabkan penumpukan stok barang. 

Sebaliknya, tingginya konsumsi dan sedikitnya produksi dapat memicu impor yang mengakibatkan penurunan laba perusahaan hingga melemahnya pasar modal. 

7 ) Kemerosotan Ekonomi Selama Dua Kuartal Berurutan

Pertumbuhan ekonomi menjadi tanda paling jelas untuk melihat kondisi ekonomi suatu negara. Pertumbuhan ekonomi suatu negara naik artinya kondisi ekonominya kuat. Jika ekonomi turun termasuk produksi domestik, maka dipastikan negara mengalami resesi ekonomi

8 ) Nilai Impor Lebih Besar

Impor disebabkan karena permintaan tinggi namun produksi rendah dan harus membutuhkan produk dari luar negeri.

Nilai impor yang lebih tinggi dapat menyebabkan nilai anggaran menjadi defisit. Namun tidak jika sebaliknya, yaitu kelebihan produksi dan harus melakukan ekspor ke negara yang membutuhkannya. 

9 ) Tingkat Pengangguran Tinggi

Tenaga kerja menjadi faktor yang berperan sebagai penggerak ekonomi. Pengangguran terjadi akibat banyaknya lapangan kerja yang tidak sesuai dengan skill yang dimiliki para tenaga kerja. 

Sehingga pengangguran tinggi sebanding dengan tingginya angka kriminalitas sebabkan resesi ekonomi

Dampak dari Resesi Perkonomian Negara

Dampak secara umum dari resesi ini yaitu pertumbuhan ekonomi lambat dan membuat sektor produksi menahan kapasitas produksi. Jika produksi ditekan, maka yang terjadi adalah benyaknya pekerja yang di-PHK hingga perusahaan mengalami kebangkrutan.

Perusahaan bangkrut membuat investor memilih meletakkan dananya ke investasi yang lebih aman. Kesulitan perekonomian juga akan berdampak pada:

  1. Daya beli masyarakat rendah 
  2. Pinjaman pemerintah melonjak tinggi
  3. Sumber pendapatan negara rendah karena:
  • Pembangunan tetap harus berjalan meski ekonomi sulit
  • Pengeluaran pemerintah bertambah karena harus memberikan subsidi
  • Defisit anggaran dan tingginya utang negara

Cara Menghadapi Resesi Ekonomi Pasca Pandemi

Pandemi saat ini seakan timbul tenggalam karena masyarakat seakan sudah muak dengan berita tentang kasus tersebut. Seperti tiada habisnya karena satu persatu banyak peraturan baru yang harus ditaati oleh masyarakat. Tumpang tindihnya peraturan ini membuat masyarakat lengah dan masa bodoh dengan keadaan yang sedang terjadi seperti melemahnya ekonomi. Berikut ini cara menghadapi resesi ekonomi yang kemungkinan akan terjadi kembali pasca pandemi.

1 ) Mencari Penghasilan Tambahan

Menghemat pengeluaran saja tidak cukup untuk menghadapi kemungkinan resesi. Perlunya mencari tambahan penghasilan dengan mencoba pekerjaan sambilan atau membangun bisnis kecil sendiri. Tidak perlu khawatir jika modal yang dibutuhkan kurang, Anda bisa melakukan pinjaman di Kredit Pintar.

2 ) Mulai Memilih Produk Lokal

Membeli dan menggunakan produk lokal membuat Anda ikut berkontribusi pada perbaikan resesi ekonomi nasional. Tujuannya akan perputaran uang di dalam negeri tetap lancar. Produk lokal tidak kalah berkualitas dengan produk impor. 

3 ) Berhemat

Poin yang sering terlupa ketika seseorang mempunyai penghasilan lebih, biasanya akan menghasilkan pengeluaran berlebih juga. Padahal konsep berhemat yaitu menekan pengeluaran dan meningkatkan penghasilan. Hindari kegiatan-kegiatan yang tidak penting dan sebabkan keborosan serta alihkan dengan hal-hal dengan diri sendiri yang lebih bermanfaat. 

4 ) Menyiapkan Dana Darurat

Dana darurat ini harus disiapkan untuk hadapi resesi ekonomi minimal 3-5 kali lebih besar dari pengeluaran bulanan. Namun jika Anda sudah berkeluarga, maka perlunya menyiapkan dana darurat sebesar 6-12 kali besarnya pengeluaran. Jangan pernah gunakan dana darurat untuk melakukan pengobatan atau hal-hal yang sifatnya terhenti atau uangnya tidak lagi berputar. 

Itulah pengertian, penyebab, dampak hingga cara menghadapi ancaman resesi ekonomi. Tindakan preventif lebih baik daripada mengatasi sesuatu yang sudah terlanjur terjadi. Pandai-padai dalam mengatur keuangan mulai dari diri sendiri.

Artikel ini ditulis oleh Kredit Pintar, perusahaan fintech terdaftar dan diawasi OJK yang memberi kemudahan dalam penyaluran pinjaman online bagi seluruh rakyat Indonesia. Ikuti blog Kredit Pintar untuk mendapatkan informasi, tips bermanfaat, serta promo menarik lainnya.

Kredit Pintar - pinjaman online yang terdaftar di ojk
10 Oct 2022
mobile-close
Pinjam kilat 20 juta!Download