Strategi Pengembangan Produk Kriya dalam Ekonomi

06 Dec 2021 by Kredit Pintar., Last edit: 21 Sep 2022

Kriya menjadi salah satu bagian dari subsektor ekonomi kreatif. Pada masa pandemi, produk kriya termasuk dalam komoditi yang bisa tetap bertahan. Walaupun tidak dapat dipungkiri, subsektor ini mengalami mengalami penurunan sebesar 3-5%. 

Penurunan yang terjadi pada subsektor kriya jelas dapat mempengaruhi perekonomian nasional. Sebab, subsektor kriya termasuk dalam tiga kontributor besar dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Pada tahun 2019 saja, data dari Badan Pusat Statistik menunjukan bahwa subsektor kriya mampu menumbang 14,9% dari total PDB nasional. 

Strategi Pengembangan Produk Kriya dalam Ekonomi Kreatif

Terjadinya pandemi, kemudian menyebabkan penurunan pada sektor kriya. Hal tersebut dipengaruhi oleh diberlakukannya kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan (PPKM) hampir di seluruh daerah. Kondisi ini menyebabkan kegiatan produksi dan pemasaran produk kriya mengalami hambatan, yang akhirnya menyebabkan penurunan.

Disamping menyebabkan penurunan pendapatan, terjadinya pandemi juga membawa dampak lainnya pada subsektor kriya. Dalam sektor kriya, pandemi melahirkan sebuah tren baru. Dimana bermunculan produk-produk baru sebagai jawaban atas terjadinya pandemi. Produk tersebut seperti, aksesoris masker, APD (Alat Pelindung Diri) dengan berbagai model, dan lainnya.

Kemunculan tren baru tersebutlah yang akhirnya membuat subsektor kriya mampu bertahan di tengah pandemi. Di Indonesia sendiri, produk kriya memiliki fungsi ganda. Sebab selain menawarkan estetika, produk kriya juga berfungsi sebagai benda terapan. Oleh karena itu, tidak heran jika produknya banyak diburu oleh konsumen.

Dengan antusiasme konsumen yang cukup tinggi, maka subsektor kriya perlu untuk terus dikembangkan. Pengembangan dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas produk, maupun memperluas pemasaran.  Hal tersebut tentunya dapat dicapai dengan kerja sama semua pihak yang berkecimpung di dalamnya, terutama dari pengrajin dan pemerintah. 

Upaya Pengembangan Produk Kriya

Pemerintah berupaya turut mengembangkan produk kriya dengan membentuk BEKRAF Creative Labs (BLC) subsektor kriya. BLC sendiri adalah prototype event sebagai guiding dalam model pengembangan kriya yang dikembangkan oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). BLC memiliki kegiatan yang berfokus pada pengembangan seni kriya, terutama dalam segi creativepreneurship. Dalam hal ini, strategi pengembangannya meliputi aspek kreasi, produksi, distribusi, perlindungan, hingga entrepreneurshipnya.

Konsep pengembangan konsep kriya ini dapat diterapkan pada ekonomi kreatif Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan subsektor kriya. Hal ini dapat secara komprehensif membantu mengembangkan akselerasi kinerja kriya Indonesia. Sebab, dibutuhkan sinkronisasi antar pemangku kepentingan untuk mengatasi persoalan yang muncul.

  1. Aspek Kreasi

Kriya yang masuk dalam subsektor ekonomi kreatif, dimana pengembangannya bergantung pada seberapa jauh daya kreativitas seniman. Daya kreativitas tersebut dapat meliputi kemampuan menemukan inspirasi dan menentukan rencana kerja. Proses kreativitas inilah yang nantinya membuat karya kriya memiliki pembeda dengan yang lainnya. Oleh karena itu aspek kreasi dibutuhkan dalam pengembangan kriya. 

Dalam hal ini, terus berupaya mencari alternatif baru harus konsisten dilakukan. Adanya kebaruan konsep maupun implementasi dalam produk kriya merupakan unsur penting didalamnya. Sehingga akhirnya dapat tercipta produk dengan inovasi dan variasi berbeda. 

  1. Aspek Produksi
Foto stok gratis buatan tangan, keahlian, kerajinan

Aspek produksi dalam upaya pengembangan kriya penting untuk diperhatikan. Pada umumnya, proses produksi kriya mengadopsi teori produktivitas. Dimana proses produksi diatur ulang dari awal hingga akhir, sehingga mampu menghasilkan kualitas produk yang baik.  Dalam hal ini diperlukan adanya perencanaan yang matang dengan memperhatikan konsep produksi yang baik.

  1. Aspek Perlindungan

Aspek perlindungan adalah upaya memberikan jaminan kelangsungan usaha kreatif agar tetap terjaga. Upaya ini meliputi perlindungan akan pendirian usaha kriya dan perlindungan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). HAKI diperlukan untuk melindungi Hak Asasi Manusia (HAM) atas kekayaan intelektualnya.

  1. Aspek Entrepreneurship

Entrepreneur memiliki kaitan dengan jiwa atau ruh dalam sebuah aktivitas usaha. Kriya yang merupakan subsektor usaha ekonomi kreatif sangat membutuhkan adanya kreativitas. Dalam hal ini, entrepreneur dapat diartikan sebagai aktivitas dengan kreativitas tanpa batas. 

  1. Aspek Distribusi

Aspek distribusi menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam subsektor ekonomi kreatif kriya. Aspek ini mencangkup akan kemampuan kriyawan dalam mendistribusikan produknya, sehingga dapat sampai ke tangan konsumen. Distribusi merupakan kemampuan tersendiri yang memerlukan kreativitas didalamnya. Sebab, produk kriya berbeda dengan produk makanan misalnya yang dapat dengan muda dibuat massal.

Tidak jauh berbeda dengan produk lainnya, distribusi atau pemasaran produk kriya juga memerlukan rencana strategis. Tanpa rencana strategis dan eksekusi pemasaran yang mantap, maka sebaik apapun produknya kemungkinan untuk laku di pasarannya kecil. Oleh karena itu, penting untuk menyusun strategi pemasaran dalam sebuah usaha.

Strategi Pemasaran Produk Kriya

  1. Menentukan Target Pasar

Pada umumnya, permasalahan dalam subsektor kriya adalah terjebaknya kriyawan dalam idealismenya. Membuat produk yang berkualitas, unik, dan bagus memang menjadi hal yang luar biasa dan patut dibanggakan. Akan tetapi apakah produk yang dibuat tersebut sesuai dengan target pasar? Hal tersebutlah yang perlu dipikirkan ketika terjun ke bisnis kriya.

Rak Dinding Kayu Coklat

Pada dasarnya, menentukan target pasar penting untuk semua jenis bisnis, tidak hanya kriya. Penentuan target pasar amatlah penting, guna dapat menentukan apakah produk yang diproduksi sesuai dengan kebutuhan masyarakat atau tidak. Oleh karena itu, target pasar biasanya akan ditentukan sebelum produk dibuat.

  1. Memproduksi Produk Kriya yang Unik

Setelah menentukan target pasar, maka yang perlu dipikirkan adalah produk apa yang harus dibuat. Penentuan akan jenis produk yang dibuat ini didasarkan pada kebutuhan pasar dan aspek keunikan. Membuat produk yang unik dan menarik bisa menarik perhatian konsumen. 

Produk yang dibuat haruslah memiliki perbedaan dengan produk lainnya, atau bisa juga sebuah inovasi dari produk serupa. Dengan cara tersebut, maka produk dapat berkompetisi di pasaran. Terus berkreasi dan berinovasi menjadi salah satu kunci agar produk tetap eksis di pasaran.

  1. Melakukan Promosi

Lakukanlah promosi sesuai dengan target pasar dari produk yang telah dibuat. Membuat konsep promosi yang menarik perhatian target pasar menjadi kuncinya. Selain itu juga, pemanfaatan media sosial dan platform distribusi bisa menjadi pilihan untuk mendongkrak penjualan. 

Penggunaan media seperti Google Ads, Facebook Ads, dan media website dapat dimanfaatkan sebagai cara mendapatkan konsumen. Selain itu juga, melibatkan media sosial seperti Instagram, TikTok, maupun Twitter dapat membantu produk kriya lebih dikenal banyak orang. Apalagi di era digital seperti saat ini, pemanfaatan platform internet perlu untuk dimaksimalkan.

Itulah aspek dan strategi yang harus diperhatikan ketika terjun dalam dunia ekonomi kreatif subsektor kriya. Pembuatan produk yang berkualitas dan menarik memang penting. Akan tetapi, disisi lain perlu diperhatikan kegunaan atas produk yang dibuat. Selain itu juga, konsep pemasaran yang matang perlu dilakukan, agar produk dapat laku di pasaran.

Artikel ini ditulis oleh Kredit Pintar, perusahaan fintech terdaftar dan diawasi OJK yang memberi kemudahan dalam penyaluran pinjaman online bagi seluruh rakyat Indonesia. Ikuti blog Kredit Pintar untuk mendapatkan informasi dan tips lain yang bermanfaat.

Kredit Pintar - pinjaman online yang terdaftar di ojk
21 Sep 2022
mobile-close
Pinjam kilat 50 juta!Download