Tantangan Industri Mobile Game di Indonesia

06 Dec 2021 by Ary Wibowo, Last edit: 21 Sep 2022

Pada tahun 2020, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mencatat bahwa jumlah penduduk Indonesia telah mencapai angka 271,35 juta jiwa. Dari sudut pandang ekonomi, kondisi ini memiliki potensi sebagai pasar industri. Hampir semua sub bidang industri memungkinkan untuk dikembangkan di tengah tingginya jumlah masyarakat. Sub Industri Mobile Game menjadi salah satu industri yang cocok untuk dikembangkan di Indonesia. Industri game termasuk dalam sub bidang ekonomi kreatif yang tengah naik daun. Pasalnya untuk saat ini, industri game dan e-commerce merupakan pelaku ekonomi kreatif yang menjadi pengguna utama data center.

Tantangan Industri Mobile Game di Indonesia

Industri dan pasar game di Indonesia untuk saat ini menjadi yang terbesar di Asia Tenggara. Pada tahun 2017, Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) bahkan menyebutkan bahwa pasar game Indonesia mempunyai 43,7 juta gamer. Dengan sumber daya gamer yang besar, diperkirakan pasar game mampu menghasilkan USD 880 juta atau sekitar Rp 12,5 triliun.

Penghasilan dari industri game tersebut, kemungkinan akan terus mengalami peningkatan seiring dengan populernya mobile game. Dalam hal ini, Asosiasi Game Indonesia (AGI) juga merasa optimis akan terjadinya perkembangan industri game di masa yang akan datang. Akan tetapi, nyatanya untuk dapat mengembangkan sebuah industri game, tidaklah mudah. 

Saat ini, potensi industri game di Indonesia dapat dikatakan belum maksimal. Hal ini terbukti dari data Newzoo di tahun 2020. Berdasarkan data tersebut, revenue Indonesia hanya mencapai USD 204 juta, jumlah tersebut jauh lebih kecil dari Singapura yang berjumlah USD 206 juta. Jika melihat fakta tersebut, sejatinya terdapat beberapa tantangan yang harus dihadapi industri game Indonesia. 

Tantangan yang Dihadapi Pelaku Industri Mobile Game Indonesia

  1. Optimalisasi Konten Digital

Permasalahan mengenai konten game menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi oleh pelaku industri game Indonesia. Konten game, selayaknya dibuat dengan memperhatikan ekosistem digital Indonesia. Untuk saat ini, ekosistem digital Indonesia masih dikuasai oleh pengguna ponsel.

Tantangan Industri Mobile Game di Indonesia

Berdasarkan hasil riset dari We Are Social, pengguna ponsel di Indonesia lebih banyak dari jumlah populasi. Angka tersebut mencapai 308 juta, atau sekitar 121% dari total populasi. Kondisi ini kemudian didukung oleh kebiasaan masyarakat Indonesia yang lebih suka mengakses internet dari ponselnya, dibandingkan melalui desktop.

  1. Dunia Industri Game yang Semakin Kompetitif

Industri mobile game awalnya dapat dikatakan sebagai tempat mendulang untung yang mudah. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, kondisi tersebut berubah. Semakin banyaknya pelaku industri mobile game, maka persainganpun kian ketat. Belum lagi ditambah dengan bergabungnya perusahaan game besar seperti EA pada industri mobile game. 

  1. Ketersediaan Infrastruktur dan Spesifikasi Hardware

Selain aspek konten game, infrastruktur dan hardware pada produk digital yang digunakan masyarakat juga harus dipertimbangkan. Menurut Huawei Global Connectivity Index, kualitas jaringan internet Indonesia tergolong rendah. Indonesia menempati peringkat 41 pada kualitas jaringan internet, dengan urutan terendah 50.

Sementara untuk kondisi pasaran ponsel di Indonesia juga tidak jauh berbeda. Ponsel yang beredar di Indonesia sebagian besar termasuk dalam low end devices dengan nilai sekitar USD 90. Dengan kondisi tersebut, maka penyesuaian game terhadap infrastruktur dan hardware ponsel perlu dilakukan. Harapannya game yang telah dibuat dapat diakses oleh berbagai jenis perangkat.

  1. Rendahnya Retensi Pengguna

Retensi pengguna menjadi salah satu tantangan bagi pelaku ekonomi kreatif sub industri mobile game. Tingginya retensi pengguna diperlukan untuk mendulang pendapatan yang tinggi. Akan tetapi, seringkali kenyataan dilapangan berkata sebaliknya. 

Pada beberapa kasus, game terpasang dan dimainkan dalam ponsel hanya sekitar satu bulan. Kondisi tersebut yang akhirnya mempengaruhi angka retensi. Sebab, retensi yang baik dihitung berdasarkan seberapa banyak pemain yang memasang dan memainkan game tersebut. Semakin tinggi retensi, maka semakin tinggi pula pendapatan yang bisa didapatkan. 

  1. Keterbatasan Pemasaran

Terciptanya sebuah game yang menarik saja tidak cukup untuk menggiring banyak pengguna. Masih diperlukan adanya promosi game yang efektif, agar dapat menjangkau target pengguna. Akan tetapi, hal tersebut tidak mudah dilakukan ketika opsi cara pemasaran terbatas dan biaya yang diperlukan tinggi. Hal ini yang kemudian menjadi salah satu penghambat berkembangnya industri mobile game di Indonesia. 

Tantangan yang harus dihadapi pelaku industri mobile game memang tidaklah mudah. Walaupun begitu, terdapat beberapa solusi yang bisa diterapkan untuk pengembangan mobile game. Solusi tersebut seperti menciptakan game dengan mengikuti tren dan lain sebagainya. 

  1. Kondisi Payment Gateway yang Belum Matang

Mobile game pada umumnya harus dibeli agar dapat memainkannya. Pemain game dalam hal ini umumnya harus melakukan pembayaran secara online atau melalui pihak ketiga, seperti bank. Kartu kredit sejatinya menjadi salah satu metode pembayaran game yang lazim digunakan. 

Akan tetapi, penggunaan kartu kredit di Indonesia masih tergolong sedikit. Oleh karena itu, pelaku industri game harus dapat mencari solusi metode pembayaran yang lain untuk mengakomodasi permasalahan ini. Dalam hal ini, penggunaan dompet digital dapat menjadi salah satu pilihan pembayaran.

Solusi Pengembangan Game Mobile

  1. Mengadaptasi Aktivitas Populer ke dalam Konten Game
Tantangan Industri Mobile Game di Indonesia

Mengadaptasi aktivitas atau permainan yang populer di kalangan masyarakat dapat menarik banyak pengguna. Beragam aktivitas seperti olahraga hingga permainan kartu dapat dijadikan sebagai inspirasi. Selain itu juga, adaptasi dari computer game bisa menjadi pilihan terbaik. Seperti tersedianya game Solitaire yang saat ini dapat dimainkan di ponsel. 

  1. Membuat Konten Game yang Menantang

Game tidak hanya menjadi alat hiburan, tetapi juga bisa menyebabkan kecanduan. Kondisi ini disebabkan oleh adanya media yang mengirim zat dopamin ke otak. Dimana zat dopamin bertanggung jawab menerjemahkan rasa bahagia ketika berhasil menyelesaikan atau memenangkan sesuatu.

Dari segi industri game, adanya kecanduan tentu memberikan keuntungan. Sebab, dapat menghasilkan retensi tinggi pada game. Oleh karena itu, dibutuhkan rencana matang untuk menyusun game yang dapat memicu candu.

Biasanya game yang sederhana, singkat, dan menantang akan lebih membuat penggunanya ketagihan. Singkatnya waktu untuk menyelesaikan satu permainan seringkali membuat pemain terlena. Umumnya baik dalam kondisi kalah ataupun menang, otak pemain akan memerintahkan untuk mencoba permainan satu kali lagi. Hingga akhirnya konsep tersebut berulang, dan tidak terasa seluruh permainan telah dimainkan. 

  1. Mengikuti Tren yang Sedang Digandrungi

Game akan lebih menarik apabila mengikuti tren yang berkembang dalam masyarakat. Dengan mengikuti tren, sebuah game dapat menggaet pengguna, terutama bagi mereka yang mengikuti tren tersebut. Banyaknya pengguna yang memasang dan memainkan game inilah yang akhirnya bisa meningkatkan pendapatan. 

Adanya tantangan dalam pengembangan game, bukan berarti membuat industri ini sulit berkembang. Justru hal tersebut dapat dijadikan sebagai motivasi. Terus menumbuhkan ide dan kreatifitas menjadi kunci utama mengembangkan subsektor game sebagai bagian dari industri ekonomi kreatif.

Artikel ini ditulis oleh Kredit Pintar, perusahaan fintech terdaftar dan diawasi OJK yang memberi kemudahan dalam penyaluran pinjaman online bagi seluruh rakyat Indonesia. Ikuti blog Kredit Pintar untuk mendapatkan informasi dan tips lain yang bermanfaat.

Kredit Pintar - pinjaman online yang terdaftar di ojk
21 Sep 2022
mobile-close
Pinjam kilat 20 juta!Download