Dragon Boat Festival: Mengenal Sejarah dan Budayanya

Dragon Boat Festival: Mengenal Sejarah dan Budayanya

10 Jun 2021 by kreditpintar
Dragon Boat Festival: Mengenal Sejarah dan Budayanya

Berbicara tentang budaya China, Dragon Boat Festival adalah salah satu acara besar yang dilaksanakan masyarakat China setiap tahunnya. Dragon Boat Festival atau bisa juga disebut dengan Duan Wu Festival dilaksanakan setiap hari kelima dari bulan kelima sesuai dengan kalender bulan China. Terkhusus di tahun 2021, Duanwu Festival akan dilaksanakan pada tanggal 14 Juni dan China sudah menetapkan waktu libur nasional sejak hari Sabtu, 12 Juni dan kembali melaksanakan aktivitas seperti sedia kala di hari Selasa, 15 Juni.

Sejarah Dragon Boat Festival

Perayaan Duan Wu Festival tidak lepas dari asal muasalnya. Festival ini bertepatan dengan hari meninggalnya Qu Yuan, seorang Menteri Kota Chu (State of Chu) sekaligus pujangga yang terkenal akan jiwanya yang patriotisme serta kontribusinya terhadap puisi-puisi klasik China. Perjuangannya kala itu pada akhirnya membawa Qu Yuan menjadi pahlawan nasional China.

Sejarah mencatat bahwa kehidupan Qu Yuan berada pada masa dinasti feodal pertama China (sekitar tahun 475 sampai 221 sebelum Masehi) dan termasuk salah satu tokoh yang menentang kekuasaan negara pada masa itu. Hal inilah yang menyebabkan Qu Yuan diasingkan oleh pemerintah China, walaupun dirinya sendiri adalah bagian dari pemerintah Kota Chu. Di masa itulah Qu Yuan menghabiskan waktunya dengan menulis banyak puisi maupun buku. 

Sejarah Dragon Boat Festival

Mengetahui bahwa Kota Chu seringkali mengalami masalah sehingga keberadaannya menjadi tidak stabil, Qu Yuan merasa depresi dan tidak dapat memberikan kontribusi nyata terhadap kotanya tersebut. Maka dari itu, setelah menyelesaikan puisi terakhirnya, Qu Yuan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara menenggelamkan diri di Danau Miluo, Provinsi Hunan.

Pengasingan yang dialami Qu Yuan membuat dirinya menjadi terkenal di kalangan para masyarakat lokal. Begitu mengetahui bahwa Qu Yuan melakukan tindakan bunuh diri, masyarakat bergegas untuk menyelematkan Qu Yuan menggunakan perahu serta membawa pangsit nasi. Namun, usaha yang dilakukan para masyarakat berakhir sia-sia karena Qu Yuan tidak dapat mereka tolong.

Sebagai persembahan terakhir, mereka menabuhkan genderang, memercikkan air serta melemparkan pangsit beras ke dalam air. Tujuan dilemparkan makanan tersebut adalah untuk menyelematkan jasad Qu Yuan agar dapat terhindar dari serangan ikan-ikan serta roh jahat. Kisah Qu Yuan ini merupakan asal muasal dari zongzi atau pangsit nasi yang selama ini dikenal oleh masyarakat China, sedangkan pencarian Qu Yuan menggunakan perahu menjadi kultur atau tradisi balapan perahu naga yang dilaksanakan setiap pagelaran Duanwu Festival. 

Budaya atau tradisi balapan perahu naga dalam Dragon Boat Festival

Pada dasarnya, asal muasal dari perahu naga ini sudah menjadi sarana transportasi masyarakat China bahkan pada masa hidup Qu Yuan, yakni sejak lebih dari 2000 tahun silam. Perahu naga dipercaya sebagai sarana masyarakat untuk menyembah Tuhan Naga pada masa itu. Beberapa ahli mengatakan bahwa perahu naga berasal dari wilayah selatan China, Provinsi Guangdong, yang juga memiliki Pearl River Delta—wilayah perairan yang tercipta dari tiga danau besar, Xi Jiang, Bei Jiang, dan Dong Jiang. Perahu naga sudah terkenal akan kegunaannya yang berperan sebagai alat kendaraan masyarakat China yang berkelana ke seluruh wilayah Asia.

Balapan perahu naga ini merupakan acara inti dari Duanwu Festival. Perahu naga yang digunakan terbuat dari kayu yang membentuk naga China. Ukurannya variatif, sekitar 20-30 meter dengan jumlah sekitar 30-60 orang yang mengayuh perahu. Jarak yang ditargetkan pun berbeda-beda, dimulai dari 100 sampai 2000 meter. Rata-rata masyarakat sering menargetkan 500 meter untuk sekali balap.

Berbicara mengenai lokasi balapan perahu naga, terdapat beberapa wilayah di dataran China yang merayakan balapan ini secara besar-besaran. Sudah menjadi kultur bahwa balapan perahu ini merupakan salah satu jenis olahraga yang terbilang kompetitif pada saat dilaksanakan. Wilayah-wilayah yang melaksanakan Duanwu Festival secara megah terletak di:

  • Pulau Victoria, Kowloon, Hong Kong – The Hong Kong Duanwu Festival
  • Prefektur Yueyang, Provinsi Hunan – Yueyang International Duanwu Festival
  • Qiandongnan Miao dan Prefektur Otonomi Dong, Provinsi Guizhou – Guizhou Dragon Canoe Festival of the Miao Ethnic People
  • Xixi National Wetland Park, Kota Hangzhou, Provinsi Zhejiang – Hangzhou Duanwu Festival

Seiring berjalannya waktu, balapan perahu naga ini menjadi olahraga yang juga dilakukan oleh masyarakat di luar China, dengan aturan-aturan yang beragam. Salah satu negara yang sering melaksanakan olahraga ini adalah Amerika Serikat, lebih tepatnya di kota besar seperti New York dan Chicago. Terlebih lagi, terdapat 67 negara lainnya yang tergabung dalam International Dragon Boat Federation, organisasi resmi yang menyelenggarakan balapan perahu naga di seluruh dunia. 

Memakan pangsit nasi (Zòngzi)

Pangsit nasi—biasa disebut juga dengan sticky rice, rice dumpling, atau zòngzi (粽子)—merupakan makanan tradisional yang tidak pernah absen dari Duanwu Festival. Karena pangsit nasi ini bersejarah, maka masyarakat China merayakan festival ini dengan membuat pangsit nasi dengan jumlah yang berlimpah. Maka dari itu, akan sangat mudah untuk mencari pangsit nasi di pasaran menjelang dilaksanakannya Duan Wu Festival.

Memakan pangsit nasi (Zòngzi)

Pangsit nasi terbuat dari nasi yang lengket—seperti ketan—yang mana didalamnya diisi dengan makanan-makanan manis maupun asin. Untuk isi yang manis, pangsit nasi biasanya diisi dengan jujube atau pasta kacang merah. Sedangkan untuk isi yang asin, terdiri dari kuning telur, daging sapi dan babi, serta jamur. Pangsit nasi berbentuk segitiga atau segi empat yang dibungkus dengan daun bambu atau alang-alang yang diikat dengan irisan batang yang tipis maupun tali yang berwarna warni sebelum akhirnya direbus.

Kultur menikmati pangsit nasi ini dinikmati dengan berbagai cara. Ada yang menikmatinya bersama dengan keluarga dengan cara membuatnya di rumah, ada pula yang membeli setengah jadi di toko swalayan. 

Menggantungkan mugwort dan calamus di rumah

Dikarenakan pelaksanaan festival yang sudah memasuki waktu musim panas, maka masyarakat China harus tetap berhati-hati dari terserangnya wabah dan penyakit yang mulai bermunculan. Kultur memanfaatkan tumbuhan Mugwort dan Calamus menjadi pilihan masyarakat untuk mencegah datangnya hal-hal buruk maupun wabah dan penyakit di musim panas.

Daun Mugwort memiliki fungsi sebagai obat yang sering digunakan oleh masyarakat China. Daun ini memiliki wangi yang sedap dan nyaman, yang mana dapat mengusir lalat dan nyamuk yang mendekat. Sedangkan Calamus adalah tumbuhan tanaman air yang juga memiliki fungsi yang sama. 

Menggantungkan mugwort dan calamus di rumah

Biasanya, para masyarakat China menggantungkan Mugwort dan Calamus di bagian pintu dan jendela rumah serta di pagar rumah halaman mereka. Dengan melakukan ini, mereka percaya bahwa perayaan Duan Wu Festival akan membawa keberuntungan serta menjauhkan mereka dari hal-hal yang tidak diharapkan terjadi.

Festival Perahu Naga tidak hanya dikenal sebagai kultur atau tradisi China, namun juga memiliki asal muasal yang heroik dibalik perayaannya yang dilaksanakan setiap setahun sekali. Pada saat perayaannya, masyarakat China dapat melakukan berbagai aktivitas. Selain berpartisipasi atau menyaksikan balapan perahu naga, masyarakat juga dapat menyantap pangsit nasi yang tersedia banyak serta menggantungkan Mugwort dan Calamus di sekitar daerah rumahnya.

Kredit Pintar - pinjaman online yang terdaftar di ojk