Diskriminasi: Kaum Minoritas Tertindas oleh Ketidakadilan

02 Aug 2021 by Laruan, Last edit: 06 Aug 2021

Mungkin rasanya sudah lelah, namun tetap tak ingin menyerah saat mendengar atau melihat kasus diskriminasi, atau perpecahan yang semakin merajalela. Berdiam bukan berarti tidak tahu dan yang bertindak pun belum tentu sudah paham. Manusia sebenarnya memiliki dasar yang baik, hanya saja keegoisan telah membutakan mata dan hati demi kesenangan semu. Di situlah ketika hal yang merugikan pihak lain dianggap benar dan perasaan mereka tak lagi didengar. Memang sulit membuat mereka sadar jika penyebab penderitaan yang diciptakan justru membuat mereka merasa puas.

Diskriminasi

Diskriminasi adalah suatu tindakan yang dilakukan dengan cara meremehkan atau merendahkan pihak minoritas demi tujuan tertentu. Dalam hal ini, pihak mayoritas merasa memiliki kuasa lebih untuk menjatuhkan dan juga membuat pihak mayoritas merasa semakin tidak berdaya. Ketimpangan ini tentu sangat tidak adil dan akan memberikan kerugian dalam bentuk fisik maupun mental terhadap korbannya. Kasus tersebut di Indonesia juga tidak dapat dihiraukan begitu saja dan harus segera diatasi. Berikut adalah penyebab, jenis, dan cara mengatasi perpecahan yang perlu Sobat Pintar ketahui.

Penyebab Diskriminasi

Diskriminasi

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, kasus perpecahan terjadi karena adanya unsur kekuasaan dari pihak mayoritas ke pihak minoritas. Namun, sudah tahukah hal yang melatarbelakanginya? Terdapat dua penyebab utama yang melahirkan perpecahan beserta jenis-jenisnya sebagai berikut:

  1. Kecurigaan di Awal

Sebagai prasangka buruk terhadap seseorang atau suatu golongan, kecurigaan dapat memunculkan perpecahan tanpa alasan kuat. Jika kecurigaan telah tercipta, maka kebenaran pun tidak akan dipertimbangkan terlebih dahulu. Alhasil, pihak yang melakukan tindakan tersebut merasa bahwa argumennya selalu benar. Sehingga, merugikan atau merendahkan pihak lain baginya tidaklah salah dan justru akan menyelamatkan kaum mayoritas yang ada. Tentunya hal ini perlu diluruskan kembali agar tidak semakin banyak korban yang menjadi kambing hitam atas kecurigaan yang muncul dan berakhir dengan ketidakadilan.

  1. Asumsi yang Melekat

Hampir serupa dengan poin sebelumnya, hanya saja asumsi di sini mengacu pada hal yang lebih spesifik yaitu stereotip. Setiap masyarakat dengan suku, agama, ras, dan gender yang berbeda pasti memiliki masing-masing asumsi yang sudah melekat dalam ingatan mereka. Misalnya, ketika suku di Papua dianggap sebagai salah satu daerah yang tertinggal, di mana pendidikan dan kesejahteraan masih jauh di bawah standar umumnya. Contoh lainnya adalah ketika laki-laki dianggap memiliki kuasa lebih atas wanita terutama dalam berumah tangga. Padahal belum tentu asumsi atau stereotip tersebut benar adanya, hal inilah yang mampu memunculkan perpecahan antar kelompok maupun individu.

Jenis Diskriminasi

Secara umum, kita mengetahui jenis atau penyebab perpecahan berdasarkan ras, agama, dan gender. Hal tersebut merupakan contoh dari perpecahan sosial yang terjadi di seluruh dunia, bahkan di Indonesia. Faktor-faktor tersebutlah yang menjadi bibit utama dalam ketidakadilan yang terjadi di masyarakat. Lalu, adalah jenis-jenis lain yang belum sempat diketahui? Dalam artikel ini, Sobat Pintar akan memahami jenis perpecahan lebih detail berdasarkan penelitian dari Stanford University sebagai berikut:

  1. Langsung

Merupakan jenis perpecahan yang sangat mudah ditemui karena dilakukan secara terang-terangan. Contohnya adalah ketika Indonesia sedang berada dalam masa penjajahan Belanda. Di mana dengan gamblangnya terdapat tulisan bahwa monyet atau pribumi dilarang masuk ke suatu bangunan tertentu. Hal tersebut tentunya mencerminkan perpecahan yang sangat nyata dari pihak mayoritas ke pihak minoritas. Di mana warga Indonesia sebagai pribumi dahulu diperlakukan berbeda dan direndahkan seperti monyet.

  1. Tidak Langsung

Jenis ini merupakan tindakan yang dilakukan tanpa niat khusus, namun menimbulkan dampak negatif yang sama dengan poin sebelumnya. Terkadang, korban pun merasa bingung apakah hal ini benar-benar perpecahan atau hanya perasaannya saja yang terlalu sensitif. Sebab, perpecahan tidak langsung terjadi bukan karena kesengajaan namun berujung pada hal yang memalukan atau bahkan merendahkan. Sebagai contoh adalah suatu tes yang dilakukan perusahaan Amerika, kemudian hasil yang didapatkan adalah semua orang berkulit hitam gagal dan tidak diterima perusahaan. Hal ini dengan jelas telah membedakan calon pegawai berkulit hitam dan putih berdasarkan jenjang pendidikannya.

  1.  Diskriminasi Organisasi dan Struktural

Tindakan perpecahan dapat dilakukan secara individu maupun kelompok. Dalam hal ini, perpecahan organisasi berlaku karena dilakukan oleh pihak korporat, universitas, pemerintahan, agensi, dan lain sebagainya. Sedangkan, perpecahan struktural atau biasa dikenal dengan institusional dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat dan dianggap sesuatu yang normal. Sebagai contoh adalah ketika suatu perusahaan menyuruh secara paksa agar wanita muslim harus melepas hijabnya. Kasus lainnya adalah perbuatan main hakim sendiri yang sering terjadi di masyarakat Indonesia.

Cara Mengatasi Diskriminasi

  1. Cobalah Berpikir Jernih

Ketika Sobat Pintar menjadi korban perpecahan, ada baiknya untuk berpikir jernih agar dampaknya tidak semakin merugikan kesehatan fisik maupun mental. Coba untuk menghela nafas secara perlahan dan berulang hingga tubuh terasa rileks. Hal ini dapat membantu logika bekerja lebih baik di tengah suasana yang pilu dan memanas. Sehingga, benang merah dapat ditemukan dan jalan keluar terhadap akar masalah dapat segera ditemukan. Dengan berpikir jernih, maka rasa cemas akan perlahan menghilang dan tekanan darah pun kembali normal.

  1. Jangan Berlarut dalam Masalah

Terlalu banyak membuang waktu, tenaga, dan emosi takkan membuat semuanya menjadi lebih baik. Meskipun tidak mudah, namun jika dibiarkan tentu saja maka yang rugi adalah diri sendiri. Untuk menghentikannya, cobalah untuk memikirkan solusi atau antisipasi terhadap kejadian tersebut yang sewaktu-waktu akan terjadi kembali. Persiapan fisik dan mental seperti ini dapat membuat Sobat Pintar menjadi lebih kuat dan berani dalam melawan ketidakadilan yang dimunculkan oleh perpecahan.

  1. Mulai Berani Berbicara

Jangan biarkan pihak mayoritas itu semakin berkuasa dan berlaku seenaknya kepada mereka yang tertindas. Langkah pertama yang harus Sobat Pintar lakukan adalah berani untuk berbicara kebenaran dan tak gentar olehnya. Dengan cara ini, diharapkan mereka akan menyadari letak kesalahan yang telah diperbuat dan segera meminta maaf pada korban. Jelaskanlah kerugian yang akan didapatkan jika mereka berada di posisi yang sama. Selain itu, ingatkan juga mereka tentang konsekuensi dan hukum yang berlaku terkait kasus perpecahan.

  1. Bergabung dengan Komunitas

Berjuang sendiri tentunya akan terasa sulit, maka Sobat Pintar perlu mencari komunitas yang bergerak dalam bidang yang sama untuk memerangi perpecahan. Dengan cara ini, motivasi dan rasa semangat dalam diri akan bangkit kembali. Sehingga jalan keluar dapat dicari dan diatasi bersama dengan cepat. Hal ini dapat dilakukan secara langsung maupun daring, karena yang terpenting adalah tentang bagaimana cara mengatasinya. Bagaimanapun juga kebersamaan sangat diperlukan bagi mereka yang telah menjadi korban dalam situasi seperti ini.

  1. Konsultasikan dengan Ahli

Cara mengatasi perpecahan yang paling efektif tentunya adalah dengan para ahli, yaitu psikolog maupun dokter. Karena jika dibiarkan terus-menerus, hal ini dapat berujung pada depresi yang tentunya bukan hal yang dapat disepelekan. Oleh karena itu, Sobat Pintar perlu menjaga kesehatan mental karena akan berpengaruh pula pada kesehatan fisik. Dengan berkonsultasi seperti ini, pikiran akan lebih tenang dan curahan hati dapat tersalurkan melalui orang yang tepat. 

Memang takkan ada habisnya membahas masalah kompleks terkait perpecahan. Sobat Pintar harus berani bertindak ketika melihat atau mengalaminya. Selama berada di jalan yang benar, tak perlu takut untuk melangkah maju demi tegaknya keadilan. Karena kedamaian akan terasa lebih indah tanpa membeda-bedakan. Jangan ragu untuk konsultasikan masalah ini pada psikolog maupun dokter terpercaya. Persiapkanlah dana cadangan bersama Kredit Pintar yang siap memberikan pinjaman.

Kredit Pintar - pinjaman online yang terdaftar di ojk
06 Aug 2021
mobile-close
Pinjam kilat 50 juta!Download