Bagi setiap Muslim, menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci merupakan impian terbesar dalam hidup untuk menyempurnakan rukun Islam yang kelima. Memasuki tahun 2026, antusiasme masyarakat Indonesia untuk berangkat ke Baitullah semakin tinggi meskipun masa tunggu antrean haji reguler masih terbilang cukup lama. Namun, sebelum Sobat Pintar berangkat atau mendaftarkan diri, ada hal mendasar yang jauh lebih penting daripada sekadar persiapan dana, yaitu pemahaman mendalam mengenai tata cara pelaksanaan haji itu sendiri.

Banyak calon jemaah yang masih sering tertukar antara Rukun Haji dan Wajib Haji. Padahal, perbedaan keduanya sangat fatal akibatnya. Jika Wajib Haji ditinggalkan, ibadah masih bisa sah dengan membayar denda (Dam), tetapi jika salah satu urutan rukun haji ditinggalkan, maka haji seseorang dianggap tidak sah dan harus diulang di tahun berikutnya. Agar ibadah yang kamu nantikan selama bertahun-tahun ini tidak sia-sia, mari kita pelajari urutan rukun haji secara mendalam dan berurutan sesuai syariat Islam.
Perbedaan Mendasar Antara Rukun Haji dan Wajib Haji
Sebelum masuk ke urutan langkahnya, Sobat Pintar harus benar-benar paham batasan antara rukun dan wajib. Dalam fiqih haji, rukun adalah inti dari ibadah yang menentukan keabsahan. Jika rukun tidak dikerjakan, maka hajinya batal demi hukum dan tidak bisa diganti dengan denda apa pun.
Sedangkan Wajib Haji adalah amalan yang harus dikerjakan, namun jika terlewat karena uzur syar’i atau lupa, hajinya tetap sah asalkan membayar Dam (denda) berupa menyembelih hewan. Contoh Wajib Haji adalah mabit (bermalam) di Mina dan Muzdalifah serta melontar jumrah. Jadi, pastikan kamu memberikan perhatian ekstra pada rukun-rukun di bawah ini karena ini adalah nyawa dari ibadah haji kamu.
Baca juga: 6 Jenis Investasi Syariah Ini Layak Kamu Pertimbangkan
Urutan Rukun Haji yang Wajib Dilaksanakan
Para ulama umumnya menyepakati ada enam rukun haji yang harus dilakukan secara tertib. Berikut adalah penjelasan rincinya agar Sobat Pintar bisa memvisualisasikan perjalanan ibadah tersebut.
1. Ihram atau Niat Haji

Langkah pertama dan gerbang pembuka ibadah adalah Ihram. Ihram bukanlah sekadar memakai kain putih tanpa jahitan bagi laki-laki, melainkan niat tulus di dalam hati untuk memulai ibadah haji. Niat ini biasanya diucapkan di tempat-tempat yang telah ditentukan (Miqat).
Tanpa niat Ihram, seluruh rangkaian ibadah yang kamu lakukan setelahnya tidak akan dihitung sebagai ibadah haji. Saat sudah berniat Ihram, Sobat Pintar juga terikat pada larangan-larangan ihram seperti tidak boleh memotong kuku, memakai wangi-wangian, atau berburu.
2. Wukuf di Arafah

Ini adalah puncak dari ibadah haji. Rasulullah SAW bersabda, “Haji adalah Arafah”. Wukuf artinya berdiam diri di Padang Arafah mulai dari tergelincirnya matahari pada tanggal 9 Dzulhijjah hingga terbit fajar di tanggal 10 Dzulhijjah.
Di momen ini, jemaah dianjurkan untuk memperbanyak doa dan istighfar. Jika seorang jemaah sakit parah sekalipun, ia harus tetap dibawa ke area Arafah walau hanya sebentar (safari wukuf) agar hajinya sah. Jika melewatkan waktu ini, maka tidak ada haji baginya tahun itu.
3. Tawaf Ifadah

Setelah selesai dari Arafah dan bermalam di Muzdalifah (Wajib Haji), jemaah akan menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan Tawaf Ifadah. Tawaf adalah kegiatan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran dengan posisi Ka’bah berada di sebelah kiri jemaah.
Tawaf Ifadah ini berbeda dengan Tawaf Qudum (kedatangan) atau Tawaf Wada (perpisahan). Tawaf Ifadah hukumnya rukun, sehingga jika tidak dikerjakan karena sakit atau haid, harus ditunggu sampai suci atau sembuh untuk mengerjakannya sebelum meninggalkan Mekkah.
Baca juga: Info Biaya Umroh dan Tips Jitu Menyiapkannya
4. Sa’i

Setelah Tawaf, urutan rukun haji selanjutnya adalah Sa’i. Sa’i adalah berlari-lari kecil atau berjalan cepat antara bukit Safa dan bukit Marwa sebanyak tujuh kali perjalanan. Ibadah ini meneladani perjuangan Siti Hajar saat mencari air untuk putranya, Ismail AS.
Sa’i dimulai dari bukit Safa dan berakhir di bukit Marwa. Berbeda dengan salat yang harus suci dari hadas, Sa’i boleh dilakukan meskipun jemaah tidak dalam keadaan berwudu, namun tetap lebih utama jika dalam keadaan suci.
5. Tahallul

Tahallul adalah simbol selesainya rangkaian larangan ihram. Tahallul ditandai dengan mencukur atau memotong rambut minimal tiga helai. Bagi laki-laki, sangat disarankan untuk mencukur habis rambutnya (gundul), sedangkan bagi wanita cukup memotong ujung rambutnya saja sepanjang satu ruas jari.
Dengan dilakukannya Tahallul, maka jemaah sudah diperbolehkan melakukan hal-hal yang sebelumnya dilarang saat berihram, kecuali hubungan suami istri (yang baru boleh dilakukan setelah Tahallul Tsani atau selesai semua rangkaian termasuk Tawaf Ifadah).
6. Tertib
Rukun yang terakhir adalah Tertib, yang artinya mengerjakan rukun-rukun di atas secara berurutan. Niat Ihram harus dilakukan pertama kali, dan Tahallul dilakukan di akhir. Namun, para ulama memberikan sedikit kelonggaran dalam urutan antara Tawaf Ifadah, Sa’i, dan penyembelihan hewan kurban/lontar jumrah (yang masuk wajib haji), tergantung kondisi di lapangan yang seringkali sangat padat. Namun secara prinsip, Ihram dan Wukuf memiliki waktu yang tidak bisa digeser.
Baca juga: Bersiap Haji/Umroh, Berapa Biaya Suntik Meningitis di Puskesmas?
Persiapan Fisik dan Mental Menjelang Haji 2026
Mengetahui urutan rukun haji saja tidak cukup jika fisik Sobat Pintar tidak mendukung. Ibadah haji di tahun 2026 diprediksi akan tetap menghadapi tantangan cuaca yang cukup ekstrem di Arab Saudi. Rangkaian ibadah seperti Tawaf dan Sa’i membutuhkan stamina berjalan kaki hingga berkilo-kilometer.
Oleh karena itu, jika kamu sudah mendapatkan porsi keberangkatan tahun ini atau tahun depan, mulailah melatih fisik dengan rutin berjalan kaki setiap pagi. Selain itu, perdalam manasik haji agar kamu tidak bingung saat berada di tengah lautan manusia. Memahami mana yang rukun, mana yang wajib, dan mana yang sunnah akan membuat ibadah kamu lebih tenang dan khusyuk.
Kesalahan Umum yang Sering Terjadi
Banyak jemaah haji, terutama yang baru pertama kali, sering terjebak pada hal-hal yang sifatnya sunnah tetapi malah mengabaikan yang rukun atau wajib karena ketidaktahuan. Contohnya, memaksakan diri mencium Hajar Aswad (yang hukumnya sunnah) hingga menyakiti orang lain, padahal menjaga ketertiban dan keselamatan diri adalah hal yang lebih utama.
Kesalahan lain adalah menganggap Lontar Jumrah sebagai rukun. Padahal, Lontar Jumrah adalah Wajib Haji. Jika seseorang sakit dan tidak mampu melontar, ia bisa mewakilkan kepada orang lain dan membayar Dam, hajinya tetap sah. Namun, jika ia tidak Wukuf di Arafah karena sakit dan tidak melakukan safari wukuf, maka hajinya batal. Pemahaman prioritas ini sangat penting agar Sobat Pintar bisa mengambil keputusan yang tepat saat kondisi darurat terjadi di Tanah Suci.
Ibadah haji adalah perjalanan spiritual yang menuntut pengorbanan harta, fisik, dan mental. Dengan memahami urutan rukun haji yang benar, Sobat Pintar telah satu langkah lebih dekat menuju haji yang mabrur. Semoga niat suci kamu untuk berkunjung ke Baitullah segera terlaksana dengan lancar dan penuh keberkahan.
Baca juga: Biaya Haji 2025 Untuk 2 Orang: Ini Estimasi dan Tipsnya
Artikel ini ditulis oleh Kredit Pintar, perusahaan fintech berizin dan diawasi OJK yang memberi kemudahan dalam penyaluran pinjaman daring bagi seluruh rakyat Indonesia. Ikuti blog Kredit Pintar untuk mendapatkan informasi, tips bermanfaat, serta promo menarik lainnya.


