Survei Ungkap 60% Konsumen Jabar Makin Cermat Meminjam, Kredit Pintar Tegaskan Komitmen Pembiayaan Transparan dan Bertanggung Jawab
Akhir bulan selalu menjadi ujian bagi banyak keluarga Indonesia. Gaji sudah masuk rekening, notifikasi tagihan berdatangan, dan di antara kebutuhan sekolah, listrik, dan cicilan, muncul pertanyaan yang jarang terucap: sebenarnya, uang kami cukup atau tidak?

Saat ini relevan di tengah dorongan OJK melalui Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN) untuk menumbuhkan kepercayaan publik serta mendorong pemanfaatan layanan keuangan formal yang transparan dan bertanggung jawab demi kesejahteraan keluarga menuju Indonesia Emas 2045.
Pencapaian inklusi keuangan saat ini cukup membanggakan: Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 mencatat indeks inklusi keuangan 93,61 persen, sementara indeks literasi keuangan 69,57 persen. Selama Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2026, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan pembukaan 27,23 juta rekening dan akun keuangan, termasuk 5,87 juta akun fintech. Sebagian besar masyarakat kini memiliki pintu masuk ke layanan keuangan formal.
Namun, punya akses belum tentu sejahtera. Selisih sekitar 24 poin antara inklusi dan literasi menunjukkan masih ada jarak antara “bisa menggunakan” dan “paham menggunakan”. Sepanjang BIK 2026, 6.446 kegiatan literasi menjangkau lebih dari 798 ribu peserta. Ruang untuk memperdalam pemahaman masih sangat luas.
Arah kebijakan pun mulai berubah. Di FinExpo 2026 di Bandung, OJK menekankan agar program literasi dan inklusi bermuara pada kesejahteraan keuangan keluarga, dengan kepercayaan masyarakat sebagai fondasi industri. Fokus ini sangat penting. Keberhasilan tidak lagi hanya diukur dari berapa banyak orang yang memiliki akun, tetapi dari berapa banyak keluarga yang mampu mengelola keuangannya dengan sehat.

Seperti apa keluarga yang sehat secara finansial?
Tidak ada definisi tunggal, tetapi setidaknya ada tiga ciri. Pertama, arus kas terkendali: pemasukan dan pengeluaran tercatat, dan kebutuhan didahulukan dari keinginan. Kedua, ada bantalan: dana darurat untuk guncangan seperti sakit atau hilangnya penghasilan. Ketiga, kewajiban terukur: cicilan dan utang sesuai kemampuan, dan dipahami sejak awal. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dalam acara yang sama mengajak masyarakat cerdas memperoleh, membelanjakan, dan menyimpan uang, serta menghindari pinjaman yang tidak sesuai kemampuan.
Sebagai penyelenggara pinjaman daring berizin OJK, Kredit Pintar melihat bahwa persoalan keuangan keluarga jarang berawal dari satu keputusan besar. Malah, masalah sering lahir dari akumulasi keputusan kecil: pinjaman diambil tanpa membaca total kewajiban, cicilan menumpuk di tanggal yang sama, atau tidak ada dana darurat saat kebutuhan mendadak datang.
Karena itu, tanggung jawab industri tidak berhenti pada penyaluran. Biaya, tenor, dan tanggal jatuh tempo harus disampaikan jelas sebelum keputusan diambil, dan penagihan perlu dijalankan dengan empati. Kepercayaan, seperti ditekankan OJK, tumbuh ketika masyarakat merasa diperlakukan adil sepanjang perjalanan finansialnya.
Komitmen terhadap transparansi dan tata kelola yang bertanggung jawab ini sejalan dengan dinamika positif yang terekam di lapangan. Berdasarkan survei konsumen yang dihimpun oleh Kredit Pintar terhadap lebih dari 300 pengunjung FinExpo 2026 di Trans Studio Mall Bandung pada 29 Oktober 2026, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya mengukur kemampuan finansial sebelum mengakses pinjaman digital mencatatkan angka yang signifikan. Sebanyak 32,01% responden menyatakan selalu menghitung kemampuan bayar terlebih dahulu, sementara 28,66% responden secara cermat memeriksa besaran bunga, biaya administrasi, hingga rincian total pembayaran sebelum mengajukan pembiayaan.
Brand & Communications Head Kredit Pintar, Puji Sukaryadi, menyampaikan bahwa temuan lapangan ini menjadi sinyal positif peningkatan maturitas konsumen di Jawa Barat dalam memanfaatkan produk keuangan digital.
“Kepercayaan masyarakat adalah fondasi keberlangsungan industri fintech lending. Temuan survei kami di FinExpo 2026 menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat kini makin kritis dan bijak. Peningkatan akses keuangan harus selalu berjalan beriringan dengan pemahaman risiko. Tugas kami di Kredit Pintar adalah memastikan edukasi keuangan disampaikan secara transparan agar masyarakat dapat mengambil keputusan finansial yang tepat,” ujar Puji.
Hasil survei juga mencatat bahwa kebutuhan dana darurat (41,16%) serta tambahan modal usaha (15,55%) menjadi dua alasan utama masyarakat dalam mengakses layanan pinjaman daring. Di sisi lain, isu bunga dan biaya tinggi (47,26%) serta penyalahgunaan data pribadi (10,98%) masih menjadi faktor kekhawatiran utama yang menjadi perhatian calon peminjam.
Empat langkah praktis untuk keluarga
1. Tetapkan “hari uang” bulanan — luangkan waktu rutin untuk mencatat pemasukan, tagihan, dan target tabungan keluarga.
2. Pisahkan kebutuhan dan keinginan — lakukan sebelum menabung, berbelanja, atau meminjam.
3. Mulai dana darurat dari nominal kecil — yang penting rutin; bantalan kecil lebih baik daripada tidak ada.
4. Hitung total kewajiban sebelum meminjam — pastikan cicilan tidak mengganggu kebutuhan pokok, dan pastikan penyelenggara berizin OJK (cek melalui Kontak OJK 157).
Inklusi keuangan adalah pintu; kesejahteraan keuangan adalah rumahnya. Tugas bersama pemerintah, regulator, industri, dan komunitas adalah memastikan masyarakat tidak hanya masuk, tetapi juga merasa aman dan tenang di dalam rumah mereka sendiri. Ukuran paling jujur dari keberhasilan itu sangat sederhana: berapa banyak keluarga yang bisa tidur nyenyak di akhir bulan?
Artikel ini ditulis oleh Kredit Pintar, perusahaan fintech berizin dan diawasi OJK yang memberi kemudahan dalam penyaluran pinjaman daring dan siap jadi #TemanAturUang bagi seluruh rakyat Indonesia. Ikuti blog Kredit Pintar untuk mendapatkan informasi, tips bermanfaat, serta promo menarik lainnya.


