Profil Atlet Indonesia Peraih Medali Olimpiade Tokyo 2020

10 Sep 2021 by Laruan

Olimpiade Tokyo 2020 menjadi salah satu ajang olahraga paling memorable sepanjang sejarah karena diadakan di masa pandemi Covid-19. Sempat dikhawatirkan penduduk dunia, pesta olahraga empat tahunan tersebut akhirnya resmi terselenggara satu tahun dari rencana semula.

Pesta pembukaan Pesta olahraga tingkat dunia yang diselenggarakan di Tokyo digelar pada 23 Juli 2021 di Tokyo National Stadium. Gelaran olimpiade yang berlangsung selama kurang lebih dua minggu itu ditutup pada 8 Agustus 2021. Tercatat ada lima cabang olahraga baru yang dipertandingkan, yaitu karate, skateboarding, panjat dinding, softball/baseball, dan selancar (surfing).

Penambahan cabang-cabang olahraga yang menyegarkan tersebut membuat Pesta olahraga tingkat dunia yang diselenggarakan di Tokyo  terasa lebih anak muda. Dari 33 cabang olahraga yang ada, Indonesia berhasil mengemas lima medali dan menduduki peringkat ke-55 dari 206 negara.

Itu menjadi peringkat terburuk kedua Indonesia sepanjang sejarah keikutsertaannya dalam olimpiade. Peringkat terendah Indonesia terjadi pada Olimpiade London 2012 (peringkat ke-60) dengan raihan dua medali perak dan satu medali perunggu. Dengan peringkat ke-55 di Pesta olahraga tingkat dunia yang diselenggarakan di Tokyo , Indonesia menjadi runner-up untuk kawasan Asia Tenggara di bawah Filipina. 

Bagaimanapun juga, perolehan lima medali (1 medali emas, 1 medali perak, 3 medali perunggu) tetap patut disyukuri. Atlet-atlet Indonesia telah berjuang gigih untuk mengharumkan nama bangsa. Berikut ini profil atlet Indonesia yang meraih medali di Pesta olahraga tingkat dunia yang diselenggarakan di Olimpiade Tokyo 2020.

Daftar Rilis Fintech Resmi Terbaru dari OJK

Profil Atlet Indonesia Peraih Medali Olimpiade Tokyo 2020

Peraih Emas Olimpiade Tokyo 2020

1. Greysia Polii (bulu tangkis ganda putri)

Atlet berdarah Minahasa dengan spesialisasi bermain ganda ini sudah mulai bergabung dalam tim nasional bulu tangkis Indonesia pada 2003. Melihat bakatnya pada usia 14 tahun, pelatih Greysia di klub Jaya Raya Jakarta memindahkannya dari pemain tunggal ke ganda.

Seperti layaknya atlet bulu tangkis sektor ganda, Greysia berganti-ganti pasangan hingga tahun 2005. Dia tercatat pernah berpasangan dengan Heni Budiman, Muhammad Rijal, dan Jo Novita. Pada pertengahan 2008, Greysia dipasangkan dengan Nitya Krishinda Maheswari dan berhasil menjadi pasangan ganda putri kelas dunia bagi Indonesia.

Salah satu prestasi mereka yang paling mengesankan adalah mempersembahkan medali emas Asian Games 2014 Incheon, Korea Selatan. Greysia mulai berpasangan dengan Apriyani Rahayu pada 2017.

Greysia memiliki memori buruk terhadap olimpiade. Saat Olimpiade London 2012, Greysia bersama pasangannya ketika itu Meiliana Jauhari menerima black card (diskualifikasi) karena sengaja mengalah di pertandingan terakhir babak grup. Mereka melakukannya agar terhindar dari pasangan China di babak perempat final. 

Selain Greysia/Meiliana, satu pasangan China dan dua pasangan Korsel juga didiskualifikasi karena alasan yang sama. Peristiwa itu membuat Greysia hampir pensiun dini di 2017. Beruntung dia bisa bangkit dari keterpurukan dan meraih medali emas di olimpiade delapan tahun kemudian.

2. Apriyani Rahayu (bulu tangkis ganda putri)

Berkat raihan emas Apriyani Rahayu, nama Kabupaten Konawe mendadak jadi dikenal oleh banyak orang. Apriyani jauh lebih junior ketimbang Greysia Polii. Atlet kelahiran 29 April 1998 ini baru bergabung dengan pelatnas Cipayung pada 2017 dan langsung dipasangkan dengan Greysia.

Perjalanan karier Apriyani tidak mulus sejak awal. Dia hanya menjadi runner-up di kejuaraan tingkat kecamatan, sehingga tidak bisa lolos ke Jakarta. Setelah berhasil meraup banyak prestasi di tingkat kabupaten, akhirnya Apriyani diminta oleh Pengcab PBSI Konawe untuk pergi ke Jakarta. Pada 2011, dia bergabung dengan klub PB Pelita milik Icuk Sugiarto.

Prestasinya sejak level junior cepat saja menarik perhatian PBSI. Pada medio 2014-2015, Apriyani beberapa kali meraih medali perak dan perunggu di World Junior Championships dan Asian Junior Championships. Penampilan perdana pasangan Greysia/Apriyani terjadi di Kejuaraan Beregu Sudirman Cup 2017.

Peraih Perak Olimpiade Tokyo 2020

1. Eko Yuli Irawan (angkat besi, 61 kg putra)

Atlet angkat besi kelahiran 24 Juli 1989 ini sudah menjadi penyumbang medali reguler bagi Indonesia sejak Olimpiade Beijing 2008. Berturut-turut Eko meraih perunggu (Beijing 2008), perunggu (London 2012), perak (Rio de Janeiro 2016), dan perak (Tokyo 2020).

Di luar olimpiade, Eko juga sudah merajai kejuaraan kawasan Asia. Dirinya menjadi langganan medali di kejuaraan SEA Games dan Asian Games, termasuk medali emas di Asian Games 2018 Jakarta-Palembang. 

Eko terlahir dari keluarga kurang mampu. Ayahnya adalah penarik becak dan ibunya bekerja sebagai penjual sayur. Di masa kecil, Eko diserahi tanggung jawab untuk menjadi gembala kambing. Takdir Eko mulai berubah ketika melihat sekumpulan orang berlatih angkat besi di sebuah klub daerahnya.

Peraih Perunggu Olimpiade Tokyo 

1. Windy Cantika Aisah (angkat besi, 49 kg putri)

Nama Windy langsung melejit di media sosial setelah menjadi atlet Indonesia pertama yang mempersembahkan medali di Pesta olahraga tingkat dunia yang diselenggarakan di Tokyo. Windy berhasil meraih medali setelah berhasil mencatat total angkatan 194 kg dari snatch 84 kg dan jerk 110 kg.

Indonesia memang terkenal dengan prestasi angkat besinya, tetapi tidak ada yang menyangka dara kelahiran 11 Juni 2002 tersebut mampu meraih medali. Sebelum ini, Windy juga berhasil merebut medali emas SEA Games 2019 Filipina dan Kejuaraan Dunia Angkat Besi Junior 2021.

Windy mulai serius menggeluti angkat besi sejak kelas 5 SD. Bakatnya menurun dari sang ibu, Siti Aisah yang merupakan mantan atlet angkat besi Indonesia.

2. Rahmat Erwin Abdullah (angkat besi, 73 kg putra)

Sama seperti Windy, keberhasilan Rahmat menggondol medali olimpiade mengejutkan banyak pihak. Usianya masih terhitung junior mengingat Rahmat Erwin Abdullah lahir pada 13 Oktober 2000. 

Debut Rahmat mewakili Indonesia terjadi pada SEA Games 2019 Filipina dimana dia berhasil menyabet medali emas di kelas 73 kg putra. Pada tahun yang sama, dia juga berhasil meraih emas di Asian Junior Championships 2019 di Pyongyang.

Rahmat adalah anak dari pasangan Erwin Abdullah dan Ami Asun Budiono yang juga merupakan atlet angkat besi nasional. Rahmat menjadi harapan penerus atlet angkat besi Indonesia mengingat lifter senior Eko Yuli Irawan kini sudah berusia 32 tahun.

3. Anthony Sinisuka Ginting (bulu tangkis tunggal putra)

Anthony Sinisuka Ginting meraih medali terakhir bagi kontingen Indonesia di ajang Pesta olahraga tingkat dunia yang diselenggarakan di Tokyo . Di babak perebutan juara ketiga, dia mengalahkan pebulutangkis asal Guatemala Kevin Cordón secara straight set

Nama Anthony sendiri sudah tidak asing bagi pecinta badminton tanah air. Bersama Jonathan Christie (Jojo), mereka menjadi tumpuan medali di sektor bulu tangkis tunggal putra. Sebelum olimpiade, Anthony juga berhasil merebut medali perunggu kategori perseorangan tunggal putra Asian Games 2018.

Dirinya sudah berkecimpung di kejuaraan bulu tangkis sejak usia SD dan pernah memenangi kompetisi MILO School Competition pada 2008. Anthony mulai bergabung dalam kompetisi bulu tangkis senior pada 2013. Pada 2014, Anthony meraih perunggu di BWF World Junior Championships.

Itulah profil 5 atlet Indonesia yang meraih medali di ajang Pesta olahraga tingkat dunia yang diselenggarakan di Tokyo . Semoga di olimpiade 2024 Paris kita bisa meraih lebih banyak medali dan mencapai target peringkat 40 besar dunia. Dengan potensi yang ada, kemungkinan besar badminton dan angkat besi masih menjadi nomor unggulan Indonesia untuk meraup medali olimpiade.

Percaya bahwa segala mimpi bisa diwujudkan. Apabila Sobat Pintar membutuhkan tambahan modal untuk wujudkan mimpi, andalkan saja aplikasi Kredit Pintar.

Semarak Promo Dalam Shopee 9.9 2021, Jangan Ketinggalan Kemeriahannya!

Kredit Pintar - pinjaman online yang terdaftar di ojk
mobile-closeKredit PintarDownload