Waduh! Begini Nasib Milenial 10 Tahun dari Sekarang

29 Oct 2018 by Edwin

“Nggak fokus!”

“Boros!”

“Pemberontak!”

Bagi generasi milenial kata-kata tersebut bagai sarapan yang sudah biasa mereka santap. Ya mau gimana lagi? Sebagai generasi pendahulu, Generasi X bilang gaya hidup dan pola pikir milenial nggak pen-pinaple-apple-pen (baca: nggak sesuai) dengan gaya hidup dan pola pikir mereka dulu. Karena faktanya, dunia yang mereka ‘persiapkan’ untuk generasi milenial menuntut perubahan pola pikir berubah ke arah pertahanan hidup di tengah belantara gedung pencakar langit.

10 tahun dari sekarang, di saat anggota generasi X sudah mapan punya rumah dan mulai membangun keluarga, generasi milenial mungkin masih akan berhadapan dengan tagihan bulanan rumah yang harus mereka bayarkan.

Tantangan finansial yang akan dihadapidan secara bertahap sedang dihadapi—oleh generasi milenial tak seperti Pokémon Go yang banyak dapat perhatian. Padahal layaknya pemanasan global, tantangan finansial yang akan dihadapi generasi milenial pun nyata pula!

Menurut para ‘generasi pendahulu’ sebagai penyebab Bumi yang semakin panas, kesulitan keuangan yang dialami generasi pecinta kopi ini tak jauh karena generasi ini tak bisa mengendalikan diri untuk membeli barang yang tidak mereka butuhkan dengan uang yang tak mereka miliki. Ya! Sekitar 75 miliar jumlah milenial di dunia pasti tak asing dengan generalisasi tadi.

Sebagai generasi yang baru masuk dunia kerja setelah krisis moneter berakhir, generasi milenial harus menghadapi banyak tantangan keuangan, seperti:

Mengubur banyak impian

Banyak milenial yang sudah menyiapkan liang lahat untuk memendam impian mereka memiliki rumah, terutama bagi mereka yang tinggal di kota besar. Harga properti yang semakin melonjak naik membuat mereka berpikir seribu kali sebelum menabung beli perumahan.

Tahun-tahun ini seperti musim meranggas untuk banyak impian milenial yang berguguran. Gugurnya impian perumahan ini hanya permukaan dari gunung es. Faktanya masih banyak anggota generasi ini yang memilih untuk memotong pita garis finish pada jenjang pendidikan mereka hingga tingkat SMA sederajat karena biaya pendidikan yang makin tinggi. Meski begitu, seperti yang sedang hangat jadi buah bibir para anak muda di US, banyak dari mereka yang memilih ambil hutang demi bisa kuliah untuk dapat pekerjaan yang memberi gaji lebih besar.

Uang tabungan tergerus inflasi

Musuh terbesar nilai mata uang adalah pertumbuhan inflasi yang disebabkan banyak faktor. Ya mau gimana lagi? Semakin hari inflasi semakin bertumbuh. Misalnya nih, sekarang uang 10 juta yang sudah bisa untuk beli 1 unit sepeda motor kalau ditabung selama 5 tahun bisa aja hanya cukup buat beli 1 unit ponsel pintar nantinya. Nggak ada yang tau, sih!

Capek kan? Udah makin susah cari kerja, eh duit gaji yang ditabung malah tergerus inflasi.

Kapan pensiun?

Banyaknya tuntutan yang harus dibayarkan (secara harafiah) membuat batas waktu usia pensiun milenial menjadi diperpanjang. Kalau orang tua kita sudah pensiun di usia 50an atau 60an, milenial bisa aja baru pensiun di usia 70an karena banyaknya tagihan yang harus dibayarkan.

***

Meski masih banyak lagi tantangan yang harus dihadapi, tapi milenial terhitung sebagai generasi beruntung. Mereka adalah generasi pertama yang lahir saat koneksi internet sudah bisa didapatkan di rumah masing-masing. Selain itu, ada hal lain yang masih memberi secercah harapan bagi generasi ini.

Melakukan aktivitas semudah menekan ponsel

Tak bisa dipungkiri kalau hidup di zaman sekarang semakin mudah karena pertumbuhan teknologi. Aktivitas yang menguras waktu dan tenaga sekarang sudah dipermudah dengan berbagai aplikasi di ponsel pintar. Perkembangan teknologi juga semakin mempermudah arus informasi serta mempermurah biaya untuk hiburan. Yaa, jadi walaupun banyak tantangan yang jadi PR untuk milenial paling tidak mereka masih bisa hidup sedikit mudah.

Wadah yang menampung investasi makin banyak

Nih, yang jadi harapan milenial! Demi menangkis ancaman inflasi dan harga properti yang semakin naik, milenial perlu menginvestasikan uangnya. Karena bergantung sama penghasilan utama aja nggak cukup, dan menabung aja nggak akan bikin kaya. Kemajuan teknologi pun melahirkan banyak platform penyedia layanan investasi yang mudah dan bisa dimanfaatkan anak muda untuk mengembalikan mimpi mereka yang sudah sekarat.


Artikel ini ditulis oleh Kredit Pintar, perusahaan fintech yang memberi kemudahan dalam penyaluran pinjaman online bagi seluruh rakyat Indonesia. Ikuti blog Kredit Pintar untuk mendapatkan tips mengatur keuangan lain yang bermanfaat. Ingin mengenal Kredit Pintar lebih dekat?