Manfaatkan Keterbukaan Kondisi Keuangan, Yuk Belajar dari AS

30 Jan 2018 by Edwin

Sebagai warga Indonesia, kondisi keuangan yang berbeda tentu dialami oleh tiap keluarga. Berbagai cara untuk mencapai kondisi finansial yang mapan bisa ditempuh oleh tiap orang, tapi tentu aja untuk mencapainya butuh pengorbanan dan strategi yang tepat. Pengelolaan uang yang baik bisa dimulai dari keterbukaan berbicara tentang uang. Di Indonesia sendiri, pembicaraan seputar uang hanya berkisar tentang pemasukan dan pengeluaran aja. Meskipun belum ada penelitian yang menyeluruh di sini, tapi para ahli di Amerika Serikat (AS) menyatakan bahwa berbicara tentang uang dapat mengetahui bagaimana memakai dan mengelola uang.

Dari keseluruhan masyarakat, 68 persen orang Amerika Serikat (AS) mengatakan kalau mereka lebih suka membicarakan berat badan ketimbang uang. Hal itu berdasarkan survei yang dilakukan perusahaan aplikasi investasi Acorns yang survei lebih dari 3.000 orang Amerika Serikat berusia 18-44 tahun.

Berbicara soal uang termasuk hal yang memalukan secara budaya di AS. Cara pikir yang tergolong konservatif bisa jadi adalah salah satu penyebabnya. Dalam buku etika sopan santun “Etiquette In Society, In Business, In Politics, and At Home” yang ditulis oleh Emily Post mengatakan kalau seseorang sebaiknya menjaga soal keuangan mereka secara pribadi.

Sementara itu, Psikiater Kirsten Thompson mengatakan, kalau dalam budaya AS, uang bukan hanya kebutuhan dasar tetapi juga ukuran kesuksesan.

Berdasarkan gender, perempuan memiliki waktu lebih sulit lagi untuk menghadapi masalah ini. Berdasarkan studi Fidelity Investments Money Fit Women Study menyatakan, kalau 56 persen perempuan mengatakan menahan diri untuk tidak membahas masalah keuangan.

Sedangkan sekitar 47 persen, perempuan ragu untuk berbicara tentang uang dan investasi. Padahal membicarakan soal uang juga dapat memberi manfaat. Ahli keuangan NerdWallet Brianna McGurran mengatakan, berbicara tentang uang membuka kemungkinan seseorang dapat menemukan kesamaan.

Dari hasil survei, satu dari lima orang menyatakan kalau menyalahkan pasangan mereka atas kekhawatiran kondisi keuangan. Sisi lain menuduh pasangan boros dan gagal menganggarkan penghasilan dengan benar. Berdasarkan data biro statistik nasional di Inggris menunjukkan kalau 107 ribu pasangan bercerai pada 2016, naik 5,6 persen dari tahun sebelumnya. Bayangkan, permasalahan itu paling banyak terjadi hanya karena kurangnya saling keterbukaan terhadap kondisi keuangan masing-masing.

Jadi, apa yang harusnya kita praktikkan untuk mempertahankan kondisi rumah tangga agar tetap stabil?

Sudah pasti keterbukaan informasi keuangan adalah prioritas utama.