Media Sosial Bikin Konsumtif? Ini dia alasannya

27 Aug 2018 by Edwin

Marketing tradisional tidak sedang sekarat – tapi memang sudah mati. (Zynman 1999)

Pernyataan tersebut bisa diartikan seperti platform untuk menjalankan strategi marketing yang sudah tidak efektif lagi menggunakan media tradisional (koran, radio, televisi). Internet lah yang sekarang jadi tempat pemasaran yang efektif, khususnya media sosial. Informasi yang disampaikan di internet terbukti lebih dipercaya daripada informasi di media-media tradisional.

Perkembangan dunia yang makin pesat mendorong pemasaran berbagai industri untuk mengikuti perkembangan masyarakat.

Perilaku konsumerisme tidak hanya dipengaruhi oleh iklan-iklan yang bertebaran di sosial media, pengaruh teman juga memiliki peran penting lho. Ada teman yang mengunggah foto kopi di cafe ini, otomatis muncul keinginan pribadi untuk makan di tempat itu juga.

Makin mudahnya orang untuk mengakses sosial media, makin rentan pula mereka terpapar dengan produk-produk yang akan mengantarkan mereka ke budaya konsumerisme.

Kemunculan media sosial juga menjadi permulaan tumbuhnya gengsi dalam sosial media. Posting ngopi di sini, liburan ke situ, OOTD model begitu. Makin sering mengikuti akun lifestyle, keborosan juga tidak bisa dihindarkan.       

Secara psikologis, ada beberapa hal yang membuat sosial media mampu mempengaruhi keputusan konsumen dalam membeli barang:

  • Persepsi

Pandangan pengguna media sosial terhadap apa saja yang dibagikan di sana dapat memengaruhi perilaku mereka nantinya. Ada 3 tahap untuk mempengaruhi persepsi seorang konsumen terhadap suatu produk, yaitu:

– paparan terhadap produk/iklan
– perhatian konsumen
– dan visualisasinya dalam menggunakan produk tersebut.

Simpelnya, semakin sering konsumen melihat iklan suatu produk, tendensi konsumen untuk membeli produk tersebut lebih besar. Untuk menarik perhatian konsumen pada sebuah iklan sebenarnya sangat mudah. Menurut sebuah penelitian, 1.54 detik saja sudah cukup untuk sebuah iklan menarik perhatian konsumen. Setelah itu, visualisasi konsumen yang menentukan apakah iklan tersebut berhasil atau tidak. Iklan yang berhasil cenderung membuat konsumen membayangkan dirinya menggunakan produk tersebut.  

  • Ingatan

Seringnya konsumen melihat iklan suatu produk, semakin tinggi pula kemungkinan konsumen untuk jadi familiar dengan produk tersebut. Didukung dengan banyaknya penelitian yang menyebutkan bahwa manusia cenderung lebih mudah mengingat secara visual, membuat konten sosial media memberi dampak yang signifikan terhadap perilaku konsumen.   

  • Motivasi

Sebelum konsumen mengambil keputusan apakah akan membeli suatu barang atau tidak, pasti mereka sudah memiliki alasan tersendiri. Apakah barang yang akan dibeli mampu mempermudah kegiatan, memberi kesenangan, atau menunjang penampilan. Motivasi ini sifatnya personal dan berperan penting terhadap perilaku pembelian mereka.

  • Tingkah laku

Tingkah laku konsumen adalah hal-hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan pembelian dari informasi yang didapat. Untuk barang berharga jual rendah (low-involvement) proses pengambilan keputusan dilakukan dengan mudah, sedangkan untuk barang berharga jual tinggi (high-involvement) proses pengambilan keputusan dilakukan dengan dengan pertimbangan yang matang.


Artikel ini ditulis oleh Kredit Pintar, perusahaan fintech yang memberi kemudahan dalam penyaluran pinjaman online bagi seluruh rakyat Indonesia. Ikuti blog Kredit Pintar untuk mendapatkan tips mengatur keuangan lain yang bermanfaat. Ingin mengenal Kredit Pintar lebih dekat?

mobile-closeKredit PintarDownload