5 Fakta Seputar Gangguan Obsesif Kompulsif

04 Aug 2021 by Laruan

Gangguan obsesif kompulsif merupakan sebuah masalah psikologis yang menyebabkan gangguan kejiwaan. Penderita yang mengalami gangguan ini akan merasakan dorongan dalam pikiran dan jiwanya untuk melakukan sesuatu secara berulang-ulang dan tidak bisa dikendalikan, selain itu penyakit ini juga disertai dengan tanda perilaku impulsif. 

gangguan obsesif kompulsif

Contoh perilaku kompulsif yang paling mudah adalah ketika seseorang berusaha meremas-remas kepalanya dengan sangat keras ketika ia melakukan sebuah kesalahan atau ketika merasa tertekan. Adapun tindakan yang dilakukannya tersebut merupakan tindakan yang spontan tanpa bisa dikendalikannya. Meskipun, dalam pikiran sadarnya penderita sama sekali tidak sedang memikirkan hal tersebut atau ingin melakukannya. Pengidap sama sekali tidak punya kekuatan untuk dapat melawan hasratnya tersebut. Sehingga, tidak jarang jika seseorang menderita penyakit ini kehidupannya akan berubah 180 derajat tanpa bisa diatur. 

  1. Faktor resiko gangguan obsesif kompulsif

Terdapat beberapa faktor resiko gangguan psikologis ini, yaitu faktor keturunan, struktur otak, fungsi otak dan lingkungan sekitar. Dari keempat faktor yang telah disebutkan, faktor lingkungan sekitar merupakan faktor utama yang paling mempengaruhi. Dimana lingkungan secara tidak langsung dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan individu.

 Jika, lingkungan sekitar tidak mampu memberikan dukungan perkembangan psikis pada anak maka pada saat itu berbagai penyakit mental dapat terjadi, salah satunya tindakan impulsif. Contoh sederhananya adalah pada masa kecilnya penderita sering mengalami bullying dengan cara dihina, diejek dan direndahkan akibat kekurangan yang dimilikinya. Efeknya adalah si anak akan terus berusaha menutupi kekurangan tersebut dengan cara apapun.

  1. Penyebab terjadinya gangguan obsesif kompulsif

Gangguan kejiwaan ini dapat menyerang siapa saja dan dari kalangan usia berapapun, bahkan anak-anak sekalipun. Dalam kebanyakan kasus yang mendapat penanganan, usia yang paling rentan terhadap penyakit ini adalah usia remaja yang berkisar antara 17 hingga 19 tahun. Dan lebih banyak diderita oleh anak laki-laki di usia dini. 

Adapun penyebab penyakit ini belum diketahui secara pasti karena masih terbatasnya pengetahuan manusia. Namun, beberapa faktor resiko yang telah disebutkan di atas dapat berpengaruh terhadap timbulnya gangguan ini.

Gejala yang ditimbulkan

Orang dengan gangguan kontrol ini akan merasakan gejala seperti munculnya obsesi, kompulsi atau keduanya. Dimana jika penderita mengalami hal tersebut, kehidupannya cenderung berubah dan bahkan dapat mengganggu berbagai aktivitasnya seperti sekolah, pekerjaan dan hubungan sosial, 

Obsesi merupakan sebuah keinginan yang berasal dari pikiran yang terjadi secara berulang-ulang, adanya dorongan dari dalam diri yang sangat kuat, atau keadaan mental yang menimbulkan perasaan cemas. 

Sedangkan yang dimaksud dengan kompulsif adalah tindakan yang dilakukan secara berulang sebagai bentuk respon dari obsesi yang tidak mampu dikendalikan oleh si penderita. Kompulsif yang umum terjadi pada pasien adalah yang berusaha selalu membersihkan benda secara berlebihan atau membasuh tangan secara berulang-ulang. Kasus lainnya adalah seperti memesan sesuatu atau mengatur sesuatu dengan cara yang tidak biasa. 

Pengidap gangguan ini juga bisa memeriksa berbagai hal secara berulang-ulang. Seperti, mereka akan selalu mengecek apakah pintu pagar sudah terkunci rapat atau listrik sudah dimatikan dengan intensitas yang tinggi. Bahkan bisa hingga puluhan kali. 

Gejala ini bisa hilang timbul, bahkan bisa berkurang dengan sendirinya atau malah bisa memburuk tergantung keadaan. Namun, penyakit ini dapat dicegah dengan cara menghindari berbagai keadaan yang dapat memicu terjadinya tindakan kompulsif. Pengidap juga dapat mengatasinya dengan meminum obat penenang yang telah diresepkan oleh dokter untuk menghindari kekacauan.

Hanya sedikit sekali dari orang dewasa yang mengidap gangguan ini sadar akan perilakunya yang diluar batas dan tanpa kendali. Kebanyakan adalah mereka tidak sadar jika perbuatan yang mereka lakukan tidak normal atau diluar kebiasaan. Pada anak-anak biasanya gejala ini dapat dikenali oleh orang tua atau guru. 

  1. Bagaimana cara melakukan diagnosis terhadap gangguan ini ?

Diagnosis gangguan mental ini perlu dilakukan termasuk melakukan pemeriksaan fisik terhadap penderita. Hal ini penting untuk dilakukan agar bisa sesegera mungkin menghilangkan berbagai masalah yang dapat memicu timbulnya gejala, serta bertujuan untuk melakukan pemeriksaan jika terdapat komplikasi.

Setelah itu, barulah dilakukan uji laboratorium, hitung darah lengkap, pengecekan fungsi tiroid, dan screening alkohol serta obat-obatan. 

Selanjutnya adalah melakukan pemeriksaan psikologis yang dilakukan oleh profesional. Pemeriksaan tersebut berupa pembahasan pikiran, perasaan, gejala dan bentuk perilaku. 

  1. Cara mengobatinya.

Berita buruknya adalah penyakit ini tidak dapat disembuhkan. Penderita hanya bisa melakukan pengurangan intensitas perilaku dengan cara perawatan. Pengobatan pada gangguan kontrol ini yaitu dengan bantuan obat-obatan, psikoterapi, atau keduanya. Berdasarkan beberapa kasus, banyak diantaranya berhasil membaik, namun tidak jarang juga pengidap yang tidak mengalami perubahan meskipun telah mendapatkan perawatan.

Beberapa penderita gangguan kontrol ini terkadang juga mengalami gangguan kejiwaan lainnya, seperti gangguan rasa cemas, depresi dan gangguan dismorfik. Sehingga penting untuk mengetahui jenis gangguan lain yang mungkin diidapnya secara bersamaan agar mendapatkan penanganan yang tepat.

Jenis obat yang digunakan untuk membantu mengurangi gangguan obsesif kompulsif adalah SRI dan SSRIs. Jika obat ini tidak memberikan efek bagi si penderita maka bisa diberikan obat antipsikotik. Namun dalam praktiknya, kebanyakan penderita merasa cocok dengan obat tersebut.

Pengobatan psikoterapi, juga merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk mengurangi gejala penyakit tersebut selain dengan menggunakan obat-obatan. Berdasarkan riset, terapi psikoterapi bahkan memiliki efektifitas yang sama dengan obat-obatan bagi kebanyakan pengidap. Adapun terapi psikoterapi yang banyak dilakukan dan dinilai paling ampuh adalah terapi perilaku kognitif dan terapi lainnya yang terkait seperti terapi pengembalian kebiasaan. 

Bahkan berdasarkan penelitian yang dilakukan, terapi psikoterapi jenis CBT tertentu dapat begitu efektif dalam mengurangi gejala penyakit tersebut jika dibandingkan dengan obat SRI. Namun bagi beberapa individu, terapi psikoterapi ini bukanlah merupakan pengobatan utama, ia hanya sebagai tambahan jika obat yang diberikan tidak begitu efektif terhadap penderita.

  1. Bagaimana mencegah gangguan kontrol tersebut?

Sebenarnya tidak ada cara baku yang ditetapkan untuk dapat mencegah gangguan mental ini. Usaha yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan perawatan dan pengobatan sesegera mungkin apabila pengidap merasa keadaannya semakin buruk. Sebab, ketika gangguan sudah terlalu parah dapat menyebabkan terganggunya rutinitas dan aktivitas yang dilakukan sehari-hari.

Menghubungi dokter atau ahli psikologis adalah hal yang harus dilakukan ketika penyakit gangguan kontrol ini telah menyebabkan berbagai pengaruh negatif terhadap kehidupan sehari-hari penderita termasuk mengganggu lingkungan sekitar.

Kesehatan merupakan hal utama yang harus dijaga, bahkan orang rela berinvestasi besar-besaran demi menjaga kesehatannya. Oleh karena itu, kita dituntut untuk memiliki tabungan atau asuransi yang bisa mengcover biaya kesehatan yang kadang datang secara mendadak. Bagi Sobat Pintar yang belum mempersiapkannya, lakukan lah segera. Jika Sobat Pintar tidak memiliki modal untuk membuka  usaha agar bisa membayar iuran asuransi, Sobat Pintar tidak perlu khawatir lagi karena sekarang ada kredit pintar yang siap membantu Sobat Pintar untuk mendapatkan  modal usaha.

Kredit Pintar - pinjaman online yang terdaftar di ojk
mobile-closeKredit PintarDownload