Apa Sih Pelajaran Yang Bisa Dipetik dari Film Keluarga Cemara?

Apa Sih Pelajaran Yang Bisa Dipetik dari Film Keluarga Cemara?

Film Keluarga Cemara yang ditunggu-tunggu para penggemar serial TV dengan judul sama yang pernah tenar pada era 90an – awal 2000an ini akhirnya tayang di bioskop. Kisah perjuangan Abah, Emak, Euis dan Ara dalam melewati lika-liku kehidupan sebagai satu keluarga sudah bisa dinikmati mulai 3 Januari 2019 kemarin. Film remake dari sinetron legendaris ini diperankan oleh Ringgo Agusrahman sebagai Abah, Nirina Zubir sebagai Emak, Zara JKT48 sebagai Euis dan Widuri Putri Sasono sebagai Ara.

Dengan konteks yang lebih modern dengan masih mempertahankan originalitas cerita, film Keluarga Cemara ini dijamin akan sukses membawa nostalgia dan menguras emosi para penontonnya! Tak hanya soal hiburan, film ini pun kaya akan nilai dan pelajaran yang bisa kita jadikan inspirasi. Berikut adalah beberapa pelajaran tentang kehidupan yang bisa dipetik dari film Keluarga Cemara:

Menyikapi badai kehidupan dengan tabah

Dalam film Keluarga Cemara, seperti versi sinetronnya, menceritakan kehidupan keluarga Abah yang mengalami masalah finansial serius. Mereka mau tidak mau harus meninggalkan kehidupan yang serba modern dan berkecukupan di kota dan pindah ke desa dengan gaya hidup apa adanya akibat jatuh miskin. Selama masa transisi gaya hidup ini, keluarga Abah diterpa banyak cobaan. Mulai dari kehilangan gaya hidup lama mereka, Abah yang harus banting tulang jadi tukang becak, hingga Ara yang mengeluhkan kehidupan mereka yang jadi serba pas-pasan.

Sosok Abah dan Emak yang saling menguatkan dan selalu menghibur anak-anaknya bisa jadi sumber inspirasi bagi kita. Meski diterpa badai kehidupan, Abah dan Emak tidak berfokus pada rasa penyesalan dan kesedihan yang ditimbulkan. Orang tua Ara dan Euis ini justru berjuang agar kehidupan keluarga mereka tidak semakin terpuruk akibat kemalangan baru yang mereka alami. Sikap tabah ini bisa kita contoh dalam kehidupan sehari-hari. Kalau biasanya kita mudah menyerah dan menyalahkan keadaan akibat satu kegagalan yang kita alami, dengan melihat perjuangan Abah dan Emak kita bisa lebih berfokus pada apa yang bisa kita lakukan untuk membalik keadaan.

Hidup sederhana bukanlah kemalangan

thejakartapost.com

Film Keluarga Cemara “reborn” ini juga mengajarkan kepada kita bahwa hidup sederhana bukanlah nasib buruk maupun bentuk kemalangan. Sikap anggota keluarga Abah yang masih bisa bersenda gurau ditengah cobaan dan penurunan gaya hidup yang mereka alami merupakan inspirasi bagi kita dalam menyikapi masalah.

Hidup sederhana bukanlah alasan untuk bersedih dan tidak bersyukur dalam hidup.

Film ini juga menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak harus diraih dengan harta. Buktinya di Film Keluarga Cemara, keluarga Abah masih bisa berbahagia ditengah hidup mereka yang sederhana. Mereka masih bersyukur atas apapun yang mereka miliki, meskipun dulunya mereka hidup lebih “enak”. Nilai ini bisa kita gunakan untuk berkaca, apalagi bagi yang seringkali mengeluh kekurangan uang untuk mencapai gaya hidup yang kita inginkan.

Kerja keras dan pantang menyerah

View this post on Instagram

A post shared by #FilmKeluargaCemara (@filmkeluargacemara) on

Abah yang tiba-tiba terkapar jatuh miskin harus langsung bangkit dan mencari nafkah untuk keluarganya. Meskipun hanya menjadi seorang tukang becak, Abah tetap semangat untuk bekerja. Emak juga tak mau berdiam diri saja melihat perjuangan Abah yang banting tulang demi keluarga. Apapun yang bisa dikerjakan, Emak lakukan demi mendukung keuangan keluarga mereka.

Kalau ditarik ke hidup zaman sekarang, tentunya nilai kerja keras dan pantang menyerah ini masih sangat relevan. Resilensi Abah yang telah jatuh miskin dan masih harus banting tulang jadi tukang becak bisa kita contoh dalam kehidupan. Kalau kita yang biasanya sudah down saat ditegur bos di kantor, ingat perjuangan abah yang tetap semangat cari uang meskipun tak sesuai harapannya.

Investasi bisa menyelamatkan keluarga dari bencana

Dalam film Keluarga Cemara, keluarga Abah “terselamatkan” dari kebangkrutan total karena rumah warisan yang dimilikinya. Meskipun jatuh miskin, paling tidak Abah sekeluarga masih punya rumah untuk berteduh. Andaikan Abah memiliki investasi atau asuransi yang menjamin masa depan keluarga mereka. Paling tidak mereka tidak akan jatuh ke lubang kemiskinan yang begitu dalam kalau memiliki aset investasi.

Bukannya mengesampingkan hikmah dari musibah yang dialami keluarga Abah, namun kita perlu menjadikan “kesalahan” Abah sebagai pelajaran dan antisipasi untuk masa depan kita, kan? Dengan menyisihkan sedikit uang setiap bulannya untuk dibelikan produk investasi, paling tidak kita sudah mempersiapkan dana untuk berjaga-jaga. Tidak perlu khawatir tidak mengerti investasi karena banyak model investasi praktis, bahkan dengan modal awal kecil yang bisa dimulai.

Salah satu produk investasi yang terjamin aman dan mudah dimulai pemula adalah dengan Pendanaan P2P Lending dari Kredit Pintar. Dengan pendanaan ini, Sobat Pintar bisa mendapatkan keuntungan yang bisa digunakan sebagai dana cadangan masa depan. Untuk memulai pendanaan di Kredit Pintar, bisa download aplikasi Kredit Pintar for Lender di Playstore maupun kunjungi website Kredit Pintar.

Keluarga adalah harta yang paling berharga

Dari lirik lagu yang jadi OST Film Keluarga Cemara pun sudah jelas kalau harta yang paling berharga adalah keluarga. Meskipun harus menghadapi lika-liku kehidupan, Abah sekeluarga masih tetap tegar dan masih bisa berbahagia. Kehangatan dalam keluarga mereka jadi sumber kebahagiaan meskipun mereka harus hidup pas-pasan meninggalkan kehidupan mereka di kota yang serba berkecukupan. Dari film ini, kita bisa melihat kalau harta bukanlah satu-satunya alasan untuk bahagia. Masih banyak alasan untuk jadi bahagia, salah satunya adalah keluarga.

Dengan film Keluarga Cemara ini, harapannya kita bisa lebih dewasa dalam menghadapi tantangan hidup yang mungkin menerpa dengan lebih berfokus pada apa yang membuat kita bahagia, bukan apa yang kita punya. 🙂

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of