Bagaimana Masa Depan Industri Fintech di Indonesia?

Bagaimana Masa Depan Industri Fintech di Indonesia?

Bagaimana Masa Depan Industri Fintech di Indonesia?

Perkembangan industri fintech di Indonesia yang begitu pesat menimbulkan berbagai pertanyaan di tengah masyarakat:

  • Apakah transaksi di fintech aman?
  • Apakah fintech hanya tren sementara saja?
  • Apakah layanan keuangan dari industri fintech akan menggeser industri perbankan sepenuhnya?

Berbagai pertanyaan terus bermunculan seiring dengan maraknya layanan keuangan dari fintech. Dari berbagai jenis fintech di Indonesia, kategori fintech payment dan fintech lending lah yang paling sering digunakan masyarakat dan paling populer.

Sobat Pintar pasti sekarang sudah sering mendapati para penjual makanan di gerobak, pedagang di warung, di minimarket, maupun di mall besar memiliki stiker QR code sebagai pilihan metode pembayarannya. Konsumen pun dimudahkan dengan hadirnya fitur pembayaran smartphone dari fintech ini. Tak hanya pembelian barang, pembayaran melalui smartphone juga sudah men-support pembayaran untuk berbagai tagihan seperti listrik, BPJS, PAM, dan lain-lain. Ditambah perusahaan fintech payment yang semakin sering memberikan diskon atau cashback setiap pembayaran menggunakan aplikasi, semakin menambah minat masyarakat untuk menggunakan layanannya pula.

Kategori fintech lain yang banyak digunakan adalah fintech P2P (peer to peer) lending. Fintech jenis ini memberi kemudahan masyarakat dalam mendapatkan akses pinjaman uang dan/atau tabungan menguntungkan yang lebih mudah dari yang diberikan bank saat ini. Karena kemudahan dan kebutuhan masyarakat akan pinjaman uang yang tinggi, tak heran fintech P2P Lending sangat menjamur di Tanah Air. Menurut data dari OJK per 31 Oktober 2018, jumlah fintech yang sudah berizin dan/atau terdaftar di OJK sudah mencapai 73 perusahaan.

Industri fintech bukan pesaing perbankan

Meskipun banyak yang menyampaikan hipotesa kalau industri fintech cepat lambat akan menggeser industri perbankan, faktanya fintech sendiri memiliki target market yang berbeda dari bank. Hingga saat ini, jika ingin melakuan transaksi dengan fintech, konsumen harus memiliki rekening bank terlebih dahulu. Rekening bank ini berfungsi sebagai rekening tujuan untuk penyaluran dana pinjaman fintech lending, gerbang pelunasan tagihan, maupun sarana untuk isi ulang saldo aplikasi fintech payment. Selain itu, transaksi melalui fintech pun masih terbatas, belum bisa sebesar transaksi melalui bank.

Industri perbankan masih tak mau kalah menunjukkan taringnya. Berdasarkan survei World Bank, tingkat penetrasi akun tabungan di kalangan orang dewasa (di atas 15 tahun) telah meningkat menjadi 49% dari 20% dalam 6 tahun terakhir. Ini membuktikan kalau bank juga masih gencar dalam membantu pemerintah meningkatkan indeks inklusi keuangan di Indonesia.

Kemajuan industri fintech pun membuat banyak bank ikut merambah ke dunia digital. Dengan layanan mobile banking, nasabah bank dimungkinkan untuk melakukan transaksi dengan menggunakan smartphone saja. Meski begitu, belum banyak bank yang berani memberikan layanan KTA (Kredit Tanpa Agunan) melalui aplikasi smartphone seperti yang diberikan fintech. Kalaupun sudah, bank tersebut menyediakan aplikasi lain diluar aplikasi utama mobile banking mereka. Hal ini dirasa kurang user friendly karena pengguna melakukan proses registrasi dari awal. Celah inilah yang menjadikan industri fintech masih diminati untuk urusan transaksi smartphone maupun penyaluran KTA cepat.

Masa depan industri fintech di Indoensia

Hingga saat ini, Fintech masih memiliki masa depan cerah di Indonesia. Bahkan pemerintah melihat fintech P2P Lending sebagai alat dalam membantu mempercepat peningkatan indeks inklusi keuangan Indonesia hingga 75% pada tahun 2019 (dicantumkan dalam SNLKI). Saat ini Fintech P2P di Indonesia memang sedang gencar merangkul segmen masyarakat unbanked (tidak terjangkau layanan perbankan) sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat akan kemudahan layanan keuangan digital.

Masyarakat Indonesia pun dirasa sudah siap menerima layanan yang diberikan industri fintech. Dari jumlah masyarakat yang belum memiliki akses perbankan, sebesar 69% penduduk Indonesia usia dewasa sudah memiliki akses smartphone dan Internet. Hal itu didorong oleh harga ponsel pintar yang semakin terjangkau dan kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat.

Fintech P2P Lending di Indonesia akan masih terus berkembang. Buktinya, pada bulan Agustus 2018, jumlah pinjaman yang telah disalurkan industri fintech P2P Lending mencapai angka Rp 10 triliun. Kenaikan ini sangat signifikan; tercatat di akhir Desember 2017 baru Rp 2,56 triliun total pinjaman yang disalurkan, atau mengalami kenaikan sebesar 291%.

Selain itu, industri fintech juga bisa mendorong perwujudan program transaksi non tunai yang sudah lama ditargetkan oleh pemerintah. Dikutip dari CNBC Indonesia, Data yang dihimpun BI (Bank Indonesia) pada awal tahun 2018 menunjukkan bahwa transaksi dengan uang elektronik harian orang Indonesia mencapai Rp 60 miliar atau naik 120% dibandingkan periode sama tahun lalu yang hanya mencapai Rp 27,7 miliar.


Dengan data tersebut, keberadaan Fintech P2P Lending masih bertahan cukup lama di Indonesia. Mumpung masih bertahan lama, Sobat Pintar mending mulai pendanaan yang menguntungkan dengan Kredit Pintar!

Pendanaan di Kredit Pintar ada dua macam yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan; produknya antara lain adalah Pendanaan Fleksibel dan Pendanaan Berjangka. Pendanaan Fleksibel sangat cocok kalau Sobat Pintar ingin mendapatkan keuntungan dengan menggunakan cadangan uang darurat. Dengan bunga 9% p.a. Sobat Pintar bisa menarik uang kapan saja. Sedangkan kalau ingin mencari keuntungan yang lebih besar dan mendapat fitur keamanan kunci uang, Pendanaan Berjangka jadi pilihan yang tepat! Bunga hingga 18% p.a. bisa didapatkan kalau Sobat Pintar mulai pendanaan berjangka dari Kredit Pintar.

Yuk, mulai pendanaan di Kredit Pintar dan buktikan proses penyimpanan uang yang simpel, aman, dan nyaman! Download aplikasi Kredit Pintar for Lender di Playstore, atau kunjungi website-nya di kreditpintar.com!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *