Pengeluaranmu Tak Terkendali? AWAS, Mungkin Itu Gejala FOMO!

Pengeluaranmu Tak Terkendali? AWAS, Mungkin Itu Gejala FOMO!

Semua orang pernah merasakan hal ini — suatu sore di hari Jumat, diajak nongkrong teman-teman kantormu yang asik. Bukannya menerima tawaran tersebut, malah justru memutuskan untuk kerja lembur untuk mengurangi load kerjaan minggu depan. Saat bekerja tentunya pikiranmu tidak bisa fokus dengan pekerjaan yang dilakukan. Kegelisahan lah yang akhirnya timbul. Pikiranmu menjelajah hingga sampai ke penyesalan: “Aku sudah ketinggalan banyak kesenangan”. Berbagai pertanyaan yang berapi-api susah untuk ditenangkan: Apakah mereka mencoba makanan yang sedang tren di instagram, yang belum pernah dicoba orang kantor? Apakah saat nongkrong teman-teman membahas gosip baru di kantor dan akan jadi guyon yang hanya dimengerti oleh mereka?

Kalau situasi di atas terasa familiar, bisa aja Sobat Pintar kena gejala Sindrom FOMO (Fear of Missing Out). Tetap tenang, jangan panik! Sindrom ini dialami sebagian besar orang di dunia.

FOMO atau Fear of Missing Out merupakan salah satu bentuk sindrom di mana penderitanya merasakan kecemasan sosial kalau dirinya tertinggal tren. Ketakutan atau kecemasan ini yang mempengaruhi pengambilan keputusan seseorang, yang seringkali tanpa melihat kondisinya terlebih dahulu. Sindrom ini dapat mengakibatkan memburuknya kondisi keuangan yang dalam jangka panjang akan menjadi sumber ketidakbahagiaan.

Artikel ini akan membahas seluk beluk sindrom FOMO dan berbagi beberapa tips untuk menghentikannya.

Biangnya FOMO

Sebenarnya Kamu takut ketinggalan apa sih?

Istilah FOMO sebenarnya sudah dikenal sejak awal tahun 2000-an, jauh sebelum internet dipergunakan luas oleh masyarakat. Namun baru setelah internet jadi tempat bersosialisasi secara masif oleh manusia, kata FOMO kembali mencuat ke permukaan. Sejak awal kemunculannya, konsep sindrom FOMO merujuk pada perilaku konsumsi yang tidak lazim. Seperti, mengapa seorang teman dengan gaji yang pas-pasan membeli ponsel mahal keluaran terbaru?

Pertanyaan tersebut kalau dilihat dari permukaan bisa mengindikasikan kalau teman tersebut mengambil keputusan yang salah yang akan menjerumuskan kondisi keuangannya. Memang, keputusan yang diambil memang salah. Namun kalau dilihat lebih dalam hingga ke akar penyebabnya, bisa jadi teman tersebut takut ketinggalan tren ponsel yang digunakan oleh teman sepergaulannya.

Salah satu penyebab utamanyanya berasal dari hal kecil yang sering kita gunakan: smartphone.

Sindrom ini merupakan salah satu efek samping penggunaan smartphone. Data menyebutkan bahwa masyarakat Indonesia yang sudah menggunakan internet pada tahun 2017 berada di angka 143,26 juta jiwa. Di mana lebih dari 75,5 persen penggunanya merupakan generasi milenial (sumber: survei APJII). Kecepatan pergerakan informasi yang ditawarkan Internet menjadi pupuk sehingga tren yang beredar di masyarakat tumbuh subur seketika. Hanya butuh waktu sekejap untuk aplikasi video singkat asli Cina menjadi tren di kalangan anak muda Indonesia.

Dampak negatif dari sindrom FOMO juga sangat kentara ketika kita tiba-tiba ingin membeli sepatu mahal keluaran terbaru setelah melihat beberapa posting dari teman kita yang mengenakan sepatu tersebut. Atau saat kita menjadi gelisah saat ada teman membuat Instastory sedang nongkrong di saat jam kerja. Aktifitas di media sosial adalah salah satu penyebab signifikan munculnya kecemasan akan ketinggalan sesuatu yang sedang tren.

Berikut beberapa gejala yang menandakan Kamu memiliki sindrom FOMO:

    • Nggak bisa lepas dari smartphone (bahkan saat sedang berkendara).
    • Membeli barang mahal yang sedang ramai diperbincangkan walau sebenarnya nggak mampu.
    • Terus-menerus mengecek media sosial, bahkan saat sedang meeting, kumpul keluarga, maupun saat makan malam bersama pasangan.
  • Berhemat secra drastis di akhir bulan ketimbang menolak ajakan teman untuk makan di tempat makan mewah di awal bulan.

FOMO adalah sumber dari pengeluaran berlebih

Ketakutan yang muncul dari sindrom perilaku sosial ini sebenarnya tidak terlalu merugikan. Yang merugikan adalah tindak lanjut untuk menanggulangi kecemasan tersebut. Karena takut ketinggalan kesempatan untuk bersosialisasi dengan kawan di kantor baru, Kamu memaksakan diri untuk ikut ajakan makan di tempat mewah walaupun dompet sedang miris. Karena takut ketinggalan tren fashun (baca: fashion), Kamu terpaksa meminjam uang untuk beli sepatu baru seperti pada foto yang diunggah teman-temanmu.

Perilaku konsumsinya emang nggak salah. Nggak tau batasan itu letak kesalahannya!

Ini bukan seragam sekolah yang wajib dibeli semua siswa; kalau nggak mampu membeli barang yang jadi tren, ya nggak usah beli! Tak banyak yang tahu, karena ini jadi rahasia orang-orang yang melakukannya. Dari sekitar 1000 orang responden, 39% di antaranya meminjam uang agar bisa melakukan hal yang sama seperti teman-temannya. Dari orang-orang yang meminjam uang tersebut, 73% di antaranya merahasiakan kalau mereka berhutang agar bisa mengikuti tren. Dan sebanyak dua per tiga responden merasakan penyesalan atas pengeluaran yang mereka lakukan hanya karena mengikuti tren sosial (sumber: survei Credit Karma).

Akhirnya FOMO pun menjadi akut dan menyebabkan ketidakbahagiaan dalam hidup. Satu, terlilit hutang konsumtif. Akibat stadium pertama dari sindrom ini sudah bisa dirasakan kerugiannya bagi keuangan pribadi. Kalau tidak berhati-hati dalam meminjam uang, jurang lilitan hutang konsumtif yang berapi-api menganga lebar dan siap menyiksa keuangan pribadi.

Dua, tidak bahagia dan tidak bergairah lagi dalam hidup. Ini merupakan akibat stadium lanjut dari FOMO. Sindrom ini membuat kita melihat rumput tetangga selalu lebih hijau. Belum mematikan, namun sudah menggerogoti kebahagiaan dari dalam. Bagaimana bisa bergairah duduk di kursi manager kalau melihat update media sosial adik kelas SMA yang sekarang bisa kerja sambil travelling keliling dunia? Dan bagaimana bisa bahagia di rumah sendiri kalau melihat ada teman yang update Instastory sedang berjemur di Bali?

Tiga, dan yang terakhir, terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Kalau sindrom ini sudah mencapai stadium akhir, bahayanya bisa mengancam keselamatan. Kamu pasti pernah mendengar berbagai berita menyedihkan akibat mengikuti tren yang berkembang di masyarakat. Perilaku tersebut bisa dibilang tak lazim lantaran keinginan untuk mengikuti tren sudah tidak bisa dikendalikan lagi.

Belajar berkata “tidak” adalah obat yang paling manjur

Terkadang masalah yang kompleks ternyata memiliki solusi yang simpel. Termasuk masalah kompleksitas FOMO yang bisa berakibat fatal sekalipun, ternyata memiliki solusi yang mudah: dengan berkata “tidak”. Meski demikian, terkadang kita kesulitan membuka mulut dan menyuarakan dua suku kata simpel tersebut karena berbagai alasan. Bisa jadi karena tidak enak menolak ajakan teman, tidak bisa mengendalikan keinginan untuk mengikuti tren atau bisa juga karena takut dipandang tidak bisa menyesuaikan diri karena tidak mengikuti perkembangan tren yang ada.

Dengan sedikit niat yang kuat dan rasa percaya diri, kata tidak akan dengan mudah terucap dan Kamu bisa sejerat bebas dari FOMO. Lantas bagaimana pengaplikasian kata “tidak” yang efektif untuk meminimalisir dampak merugikan dari sindrom ini?

  • Berkata “tidak” pada teman

Langkah dasar yang perlu Kamu lakukan adalah belajar menolak ajakan teman. Berkata “tidak” pada ajakan teman untuk ngopi memang seringkali sulit dilakukan. Kita takut dipandang sebagai perusak kesenangan karena menolak ajakan mereka. Namun, langkah ini penting agar Kamu bisa terhindar dari dampak buruk sindrom FOMO. Cara yang paling manjur adalah beri pengertian kepada diri sendiri kalau sebenarnya Kamu nggak akan kenapa-kenapa kalau tidak ikut teman ngopi. Selain itu, kalau tidak ingin kehilangan kesenangan bersama teman, beri pengertian kepada mereka kalau Kamu tidak mau mengeluarkan uang untuk secangkir kopi seharga 50 ribu. Usulkan aktifitas menyenangkan lain yang tidak memerlukan biaya agar Kamu tidak jadi si perusak kesenangan.

  • Berkata “tidak” pada gaya hidup yang tidak sesuai kemampuan

Langkah ini perlu latihan lama karena agak susah dilakukan. Seperti pada setiap anime yang pada titik tertentu akan melawan dirinya sendiri sebagai musuh terberat, kini giliranmu untuk melawan keinginan dirimu memiliki gaya hidup yang sebenarnya tidak mampu Kamu jalani. Kalau tidak mampu membeli baju baru setiap bulan, ya nggak usah beli karena masih banyak baju di lemari yang bisa di mix-and-match. Kalau tidak bisa berlibur ke luar negeri seperti teman Kamu, masih banyak kok destinasi dalam negeri yang nggak kalah Instagramable. Kamu tidak perlu menyamakan gaya hidupmu dengan gaya hidup temanmu yang mereka tunjukan di media sosial. Karena pada dasarnya, orang-orang hanya mempublikasikan apa yang kelihatan bagus saja di media sosial.

  • Berkata “tidak” pada keinginan mengikuti tren

Nggak ada untungnya! Mengikuti tren yang berkembang tidak memberimu keuntungan apapun. Bahkan kepuasan batin yang Kamu dapatkan hanya sementara. Dan akhirnya Kamu pun akan menyadari kalau tidak akan masalah kalau tidak mendapat kepuasan batin tersebut sesaat setelah semua orang meninggalkan tren yang ada.

Kesimpulan

Fear of missing out atau ketakutan ketinggalan tren yang berkembang, gaya hidup mayoritas orang, maupun kesempatan untuk bersosialisasi memang menyebar di penjuru kehidupan masyarakat. FOMO menjalar ke seluruh aspek kehidupan—yang bahkan masih banyak orang belum menyadari bahayanya. Dengan menjadi tahu sebab akibat serta dampaknya, Kamu pun akhirnya menjalani hidup yang lebih berkualitas tanpa adanya kecemasan sosial tak berarti yang timbul akibat perkembangan teknologi masa kini.


Artikel ini ditulis oleh Kredit Pintar, perusahaan fintech P2P Lending yang memberi kemudahan dalam penyaluran pinjaman dan menjadi platform pendanaan yang menguntungkan. Ingin mengenal Kredit Pintar lebih dekat? Pinjam Sekarang!

Mulai Pendanaan!

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of