Kredit Pintar, Fintech Peer to Peer Lending yang Taat Aturan

Kredit Pintar, Fintech Peer to Peer Lending yang Taat Aturan

Kredit Pintar, Fintech Peer to Peer Lending yang Taat Aturan

Jakarta — Dalam jangka waktu beberapa tahun saja, fintech peer to peer lendingsudah jadi industri yang berkembang pesat di Indonesia. Karena keunggulannya dalam menyalurkan pinjaman cepat tanpa agunan untuk masyarakat, fintech peer to peer lending sudah dipercaya sebagai pendukung program pemerintah dalam meningkatkan indeks inklusi keuangan di Indonesia.

Awal kemunculan fintech peer to peer lending memang menuai banyak kontroversi. Sebagian besar keluhan tersebut muncul dari masyarakat yang mengeluhakan tata cara penagihan hutangnya. Dengan pertumbuhannya yang pesat, Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) memberikan pedoman sistem perilaku dalam memberikan dan/atau menggunakan layanan fintech peer to peer lending.

Dilansir dari laman Aftech, terdapat tiga acuan yang menjadi prinsip dasar dalam mengembangkan Pedoman Perilaku Layanan Pinjam Meminjam Daring yang Bertanggung Jawab. Pertama, transparansi produk dan metode penawaran. Kedua, pencegahan pinjaman berlebih. Ketiga, prinsip itikad baik terkait praktik penawaran, pemberian dan penagihan hutang yang manusiawi tanpa kekerasan baik fisik maupun non-fisik, termasuk cyber bullying.

Wakil Ketua Asosiasi Fintech Indonesia, Adrian Gunadi menjelaskan, tercatat sebanyak 70 fintech yang sudah terdaftar di OJK harus mengikuti pedoman atau code of conduct, terutama dalam hal cara penagihan kreditnya terhadap nasabah.

“Kode etik yang sudah disusun itu sebagai dasar untuk melakukan review atau mediasi mengenai masalah dengan para peminjam,” ujar Adrian, Rabu (24/10).

Adrian menekankan bahwa Aftech akan memastikan pedoman ini dijalankan oleh para pelaku industri Fintech peer to peer lending. OJK bersama Aftech telah berkomitmen untuk tidak menggunakan kontak telepon dari orang terdekat peminjam, untuk menagih kredit. Selain itu adanya pelarangan penyebaran data pengguna kepada pihak ketiga, kecuali ada kesepakatan. Apabila melanggar, akan ada sanksi mulai dari sanksi administrasi hingga pencabutan izin.

Satu dari 70 fintech peer to peer lending terdepan yang terdaftar di OJK adalah Kredit Pintar yang sudah menaati code of conduct yang telah ditetapkan oleh Aftech. Meskipun sebelumnya Kredit Pintar pernah mendapatkan keluhan dari nasabah atas penagihan yang kasar, atas dasar pengalaman tersebut Kredit Pintar telah berbenah diri dan menerapkan standard yang telah ditetapkan Aftech.

“Kredit Pintar sudah menerapkan standar dari code of conduct industri fintech. Cara penagihan kami tidak boleh kasar. Debt collector-nya juga merupakan pihak ketiga dan harus ada persetujuan OJK (Otoritas Jasa Keuangan),” ujar Vice President of Business Development Kredit Pintar, Boan Sianipar.

Menurut Boan, aturan tersebut seharusnya sudah dilaksanakan oleh perusahaan Fintech lainnya. Banyaknya laporan negatif mengenai penagihan yang kasar ataupun berbagai cara penawaran produk yang membuat calon konsumen tidak nyaman, kata Boan, dapat berasal dari Fintech yang tidak terdaftar di OJK. Apalagi, berdasarkan data OJK, terdapat 182 Fintech ilegal yang beredar di Indonesia dan dapat merugikan masyarakat.

Kredit Pintar juga telah rutin mensosialisasikan pedoman ini dalam sosialisasi yang diadakan di seluruh Indonesia. Perusahaan Fintech peer to peer lending ini telah melakukan sosialisasi dan literasi di 13 kota dalam 13 provinsi. Ditargetkan hingga akhir tahun perusahaan dapat melaksanakan sosialisasi hingga 15 kota.

“Target kami sampai akhir tahun sosialisasi hingga 15 kota. Sasaran nasabah kami adalah para karyawan yang butuh dana cepat, atau pelaku usaha mikro seperti pedagang warung,” jelas Boan.

Kredit Pintar merupakan perusahaan Fintech peer to peer lending penyedia layanan pinjaman dana cepat dengan tenor singkat, mulai 14 hari hingga 90 hari. Selain mensosialisasikan untuk para calon nasabah, Kredit Pintar juga menyasar bagi para calon investor. Investasi di Kredit Pintar dapat dilakukan dalam model Pendanaan dan bisa dimulai dari Rp 10.000 dengan keuntungan 18 persen per tahun. Saat ini porsi pemodal Fintech ini 30 persen dari perbankan, 40 persen dari perusahaan pembiayaan, dan 30 persen dari masyarakat umum.


Artikel ini pertama kali dipublikasikan oleh:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *