Menggeser Peran Bank, Fintech jadi Industri Menguntungkan

Fintech atau financial technologi kini semakin banyak bermunculan. Perusahaan-perusahaan seolah berlomba terjun di bidang ini. Bank sebagai salah satu industri konvensional pun merasa terancam.

Ya, keberadaan fintech konon dapat menyebabkan hilangnya 30% pekerjaan di dunia perbankan. Dan pasti akan terjadi kurang dari 5 tahun ke depan. Konon pekerjaan back office di dunia perbankan akan hilang seiring dengan meningkatnya fintech di era seperti sekarang ini.

Untungnya di Indonesia sendiri hal tersebut masih belum dapat dibuktikan kebenarannya.

Bahkan beradasarkan laporan jumlah penerimaan karyawan, sepanjang 10 tahun terakhir bank-bank di Indonesia justru mengalami tren peningkatan jumlah rekruitmen pegawai baru. Hal ini terjadi karena bank masih melakukan ekspansi besar-besaran setidaknya hingga 20 tahun ke depan.

Untuk kamu yang belum mengerti apa itu fintech, jangan takut. Karena pada dasarnya fintech adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan di era modern dan terdigitalisasi seperti sekarang ini.

Konsep

Fintech memiliki konsep “Finansial yang Sejalan dengan Perkembangan Teknologi”. Diharapkan kehadirannya mampu memberikan hal-hal seperti:

  • Proses transaksi keuangan yang lebih cepat, mudah, dan aman
  • Memberikan layanan transaksi yang lengkap (transfer dana, pembayaran tagihan, penawaran pinjaman, dan lain-lain)

Yang Harus Diwaspadai

Ketika ada yang berkata “Fintech adalah ancaman bank” maka tidaklah dapat dikatakan benar. Pada dasarnya baik itu perbankan maupun dunia financial technologi memiliki pasarnya sendiri. Walaupun memang harus diakui pasar bank sedang terancam.

Untuk dunia fintech sendiri, bukan tanpa cela. Masih ada beberapa kekurangan yang harus diperbaiki. Di antaranya adalah:

  1. Pengenalan
    Masih banyak masyarakat yang belum mengenal kemajuan teknologi finansial ini. Hal ini menyebabkan sulitnya masyarakat memperoleh informasi seperti:- layanan finansial yang aman untuk digunakan
    – bagaimana menghindari scamming dan penipuan ketika berhadapan dengan finansial teknologiNamun seperti halnya dahulu orang-orang belum terbiasa memesan transportasi secara online, perusahaan-perusahaan finansial berbasis teknologi meyakini bahwa masyarakat Indonesia suatu saat nanti akan sangat memahami penggunaan dan pemanfaatan teknologi ini.
  2. Masih Banyaknya Kejahatan Finansial
    Pada dasarnya, masih banyaknya kejahatan finansial disebabkan minimnya kesadaran untuk mengenal dunia fintech itu sendiri. Hal ini menyebabkan banyaknya orang yang terjebak tawaran bodong atau jadi korban dari beberapa perusahaan finansial nakal.Seseorang meminjam uang harus pintar agar tidak terjebak skema-skema peminjaman yang membelit. Fintech hadir bukan hanya sebagai penyedia pinjaman namun juga sarana edukasi seperti:- memberikan simulasi cicilan utang
    – memudahkan proses pembayaran cicilan hanya dengan memanfaatkan smartphone
    – memberikan notifikasi tenggat jatuh tempo
    – dan memberikan peringatan akan adanya ancaman keamanan atas aset finansial nasabah

Namun pada akhirnya, apakah fintech dianggap sebagai ancaman bank? Semua kembali kepada bagaimana bank itu sendiri dapat turut memberikan inovasi yang memudahkan masyarakat di bidang finansial dan pembayaran. Bagaimanapun juga bank harus mulai ikut memanfaatkan fitur yang mempermudah itu semua.

 

KreditPintar adalah satu fintech yang menawarkan pinjaman dengan beberapa opsi dan tenor yang bis a disesuaikan dengan kebutuhanmu. Penasaran?Kini KreditPintar tersedia di google play. Yuk, download aplikasinya disini https://goo.gl/NpwFBz

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *